PravadaNews – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia kembali mencatat pergerakan harga sejumlah komoditas pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional yang masih menunjukkan fluktuasi.
Selain cabai dan telur ayam ras, harga komoditas lainnya juga terpantau berada pada level yang cukup tinggi di beberapa wilayah, mencerminkan dinamika pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Berdasarkan data terbaru dikutip dari PIHPS, Sabtu (11/4/2026), harga bawang merah tercatat berada di angka Rp47.350 per kilogram, sementara bawang putih mencapai Rp40.200 per kilogram.
Angka tersebut menunjukkan komoditas bumbu dapur yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat masih mengalami tekanan harga, seiring dengan kondisi pasokan dan distribusi yang bervariasi di tiap daerah.
Baca juga: Harga Cabai dan Telur Masih Meroket
Fluktuasi harga ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor produksi, tetapi juga distribusi, cuaca, serta permintaan pasar yang terus berubah. Di sejumlah daerah, keterbatasan pasokan akibat gangguan distribusi maupun faktor musim turut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk menjaga stabilitas harga pangan. Upaya pengendalian inflasi, termasuk melalui pemantauan rutin dan intervensi pasar jika diperlukan, terus dilakukan agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak terganggu.
Masih tingginya Harga Bawang juga di rasakan oleh pria yang akrab di sapa oleh Pak Angie di daerah Kebayoran lama, yang profesinya berjualan Pecel Ayam dan Lele ini
Bagi Pak Angie, harga bawang merah dan putih masih memberatkan dirinya, sebab bahan tersebut selalu digunakan sebagai bumbu produk jualannya.
Pak Angie berharap, harga tersebut bisa turun lagi seperti harga semula, yakni di Bawah Rp40.000.
“Kalau nggak salah dulunya untuk bawang putih, harga berada dikisaran Rp25.000 per kilogram, sementara itu, bawang merah dijual dengan harga Rp32.000 hingga Rp33.000 per kilogram,” yjar Pak Angie kepada PravadaNews, Sabtu (11/4).
Pak Angie berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan kenaikan harga bawang yang kian memberatkan masyarakat.
Menurutnya, stabilisasi harga menjadi hal penting agar kebutuhan pokok tetap terjangkau, terutama bagi kalangan rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada komoditas tersebut.
Selain itu, Pemerintah juga mendorong adanya penguatan distribusi dan pengawasan pasokan di lapangan, sehingga tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu lonjakan harga lebih tinggi.
Upaya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dinilai perlu ditingkatkan, termasuk melalui intervensi pasar jika diperlukan. Dengan langkah yang tepat dan cepat, diharapkan harga bawang dapat kembali stabil dan tidak terus membebani daya beli masyarakat.















