PravadaNews – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu pagi, mencerminkan sentimen positif pasar terhadap mata uang domestik di tengah dinamika global yang masih berfluktuasi.
Rupiah tercatat menguat sebesar 55 poin atau 0,32 persen menjadi Rp16.986 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.041 per dolar AS.
Penguatan ini menjadi sinyal optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional, sekaligus mencerminkan adanya aliran modal masuk serta respons pasar terhadap berbagai faktor eksternal seperti pergerakan dolar AS dan kebijakan moneter global.
Baca juga: Pagi Ini Rupiah Melemah ke Rp16.920 per Dolar
Selain itu, perkembangan ini juga menjadi perhatian penting bagi pelaku usaha dan investor yang terus mencermati arah pergerakan nilai tukar dalam menentukan strategi keuangan dan investasi ke depan.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan, penguatan rupiah seiring optimisme deeskalasi perang AS-Israel dengan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.940-Rp17.040 dipengaruhi oleh penurunan index dollar yang disebabkan oleh optimisme pelaku pasar terhadap deeskalasi perang AS-Israel dan Iran,” ujar Rully dikutip dari Antara, Rabu (1/4/2026).
Mengutip Sputnik, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para stafnya dia siap mengakhiri operasi militer terhadap Iran dan bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar masih ditutup.
Laporan itu ditulis The Wall Street Journal, Senin (30/3), dengan mengutip sejumlah pejabat pemerintahan Amerika.
Menurut laporan tersebut, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan para stafnya menyimpulkan bahwa misi untuk membuka Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik di luar rencana awal operasi, yang diperkirakan berlangsung antara empat hingga enam pekan.
Trump memutuskan Washington sebaiknya berfokus pada tujuan utamanya, yakni membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan persediaan rudalnya, serta meredakan permusuhan yang sedang berlangsung, sambil secara bersamaan menekan Tehran untuk memulihkan kelancaran arus perdagangan.
Melihat dari sentimen domestik, pelaku pasar menilai positif langkah kebijakan efisien yang akan dijalankan pemerintah.
Namun, pasar masih berhati-hati karena harga minyak yang masih di kisaran 100 dolar AS per barel.
Untuk data ekonomi Indonesia, inflasi bulan Maret 2026 diperkirakan melandai dibandingkan Februari menjadi 3,65 persen, yang dipengaruhi oleh insentif tarif listrik dan harga pangan yang terkendali pasca Lebaran.
“Neraca perdagangan diperkirakan masih mencatatkan surplus sebesar 1,5 miliar dolar AS, lebih baik dibanding bulan sebelumnya dengan kenaikan pada ekspor dan impor,” ungkap Rully.















