PravadaNews – Sebagian warga di sekitar kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengaku diliputi kekhawatiran menyusul robohnya tembok pembatas di Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang berada di area tersebut.
Kerusakan infrastruktur ini dinilai berpotensi memicu banjir, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut, mengingat fungsi tembok sebelumnya sebagai penahan aliran air dan pembatas antara area TPS dengan lingkungan permukiman warga.
Kondisi ini membuat warga merasa waswas terhadap kemungkinan meluapnya air yang dapat menggenangi rumah-rumah mereka, sekaligus menyoroti pentingnya penanganan cepat dari pihak terkait guna mencegah dampak yang lebih luas, baik terhadap keselamatan warga maupun aktivitas ekonomi di sekitar pasar.
Seorang warga yang bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Induk Kramat Jati, Tebe (35) mengatakan, upaya pembersihan kali tersebut tidak akan efektif karena sampah dari TPS di Pasar Induk Kramat Jati terus mengalir dan kembali menumpuk di saluran air.
“Percuma kita bersihin kali kalau sampahnya yang banyak banget itu jatuh terus ke kali. Jadi mampet, nanti bisa banjir,” kata Tebe di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dikutip dari Antara, Rabu (1/4/2026).
Menurut Tebe, robohnya tembok pembatas di Pasar Induk Kramat Jati itu bisa berdampak serius terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, kerusakan tembok tersebut juga terjadi secara bertahap. Tebe menceritakan, awalnya hanya sebagian kecil yang ambruk, namun kondisi tersebut terus meluas hingga membuat sampah jatuh langsung ke kali.
“Awalnya sedikit, terus ambruk, terus lama kelamaan sampahnya ke kali. Lama-lama, sampingnya ikut jebol juga, jadi makin parah,” jelas Tebe.
Sementara itu, warga sekitar bernama Samidi (42) menyebutkan bagian tembok sepanjang sekitar dua meter itu roboh setengah bulan yang lalu.
Kejadian tersebut berlangsung pada malam hari. Samidi juga menduga bagian tembok lain yang lebih panjang sudah lebih dulu mengalami kerusakan.
“Jebolnya udah setengah bulan lalu. Kalau yang itu (10 meter) saya tidak tahu, kayaknya udah lebih lama. Kalau yang ini (dua meter) setengah bulan lalu jebolnya, malam-malam gitu,” ucap Samidi.
Samidi menilai selain mencemari kali, kondisi tersebut juga memperburuk kualitas lingkungan karena bau sampah yang semakin menyengat hingga ke permukiman warga.
“Sudah mana bau banget, dari jauh udah tercium baunya, ditambah sampah jadi ke saluran kali, kalau banjir bagaimana?,” ujar Samidi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tembok yang roboh itu berada tepat di belakang tumpukan sampah yang menggunung hingga setinggi kurang lebih enam meter.
Material beton serta tiang penyangga tembok itu terlihat ambruk dan sebagian masuk ke dalam saluran air di bagian bawah.
Tak hanya itu, sampah berupa sisa sayuran dan buah-buahan dari TPS juga tampak terbawa hingga ke dalam saluran air sehingga berpotensi menyumbat aliran dan memperparah kondisi lingkungan.
Area di belakang TPS tersebut diketahui merupakan lahan kosong yang dimanfaatkan warga sekaligus sebagai tempat bermain anak-anak. Jalan setapak di dekat gunungan sampah tersebut juga menjadi akses warga sehari-hari.
Sebelumnya, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur Julius Monangta memastikan pihaknya terus memberikan bantuan armada dan personel kebersihan untuk menjaga kondisi pasar tetap bersih dan tertata.
Sebanyak 13 truk Suku Dinas (Sudin) Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Timur dikerahkan untuk mengangkut sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Senin (30/3).
“Jadi, memang itu fasilitas publik. Kita pasti mendukung fasilitas publik untuk tetap bersih dan nyaman,” kata Monang di Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin (30/3).
Dia pun menegaskan bantuan dari Sudin LH Jakarta Timur tidak dibatasi waktu tertentu, melainkan akan terus dilakukan hingga kondisi sampah di lokasi tersebut benar-benar tertangani dengan baik.
Selain itu, Monang juga memastikan upaya penanganan terus dilakukan secara maksimal dengan target akhir sampah di Pasar Induk Kramat Jati dibersihkan seluruhnya.
Seperti diketahui, upaya pengangkutan tumpukan sampah setinggi enam meter yang sudah berlangsung selama empat hari sejak Jumat (27/3) di Pasar Induk Kramat Jati hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan.















