PravadaNews – Aktivitas industri manufaktur Indonesia kembali melemah pada April 2026 setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 49,1 dari 50,1 pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini menandai kembali masuknya sektor manufaktur ke fase kontraksi, di bawah ambang 50 yang menjadi batas ekspansi.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai tekanan utama berasal dari lonjakan biaya produksi yang kini berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Dari sisi produksi, biaya input industri mengalami kenaikan cukup tajam,” kata Yusuf di Jakarta, Rabu (6/5/2926).
Yusuf menjelaskan, kenaikan tersebut dipicu gangguan rantai pasok global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Yusuf, kondisi itu berdampak pada kenaikan harga bahan baku, terganggunya distribusi, hingga melambatnya pengiriman.
“Dampaknya terasa ke harga bahan baku yang naik, pasokan yang tidak lancar, sampai pengiriman yang makin lama,” ujar Yusuf.
Selain tekanan biaya, lanjut Yusuf, pelemahan permintaan domestik turut memperburuk kondisi industri. Menurut Yusuf, pelaku usaha kini menghadapi situasi terjepit karena kenaikan biaya tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke harga jual akibat melemahnya daya beli.
Yusuf juga mengingatkan, situasi tersebut mendorong sebagian perusahaan menahan produksi dan mengurangi output, yang tercermin dalam penurunan PMI manufaktur.
Jika berlanjut, Yusuf memperingatkan dampaknya bisa merembet ke penurunan utilisasi pabrik hingga tertahannya investasi.
“Kalau tekanan ini tidak cepat ditangani dan kontraksi PMI berlanjut, dampaknya bisa cukup luas, termasuk ke penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi,” kata Yusuf.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Perindustrian menegaskan pelemahan PMI terutama dipicu faktor eksternal berupa gangguan pasokan global akibat ketidakpastian geopolitik.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan konflik internasional telah memicu lonjakan biaya logistik dan harga komoditas.
“Hal ini tentu berdampak langsung pada aktivitas produksi industri nasional,” ujar Febri.
Febri menambahkan, gangguan rantai pasok bahan baku membuat industri menghadapi kenaikan biaya yang pada akhirnya menekan kinerja manufaktur dalam negeri.















