Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi saat memberikan pemaparan dalam acara Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Beranda / Ekonomi / OJK soal IHSG Terus Tertekan: Ada yang Salah

OJK soal IHSG Terus Tertekan: Ada yang Salah

PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026). Indeks merosot 177,6 poin atau 3,05 persen ke level 5.643,19 sehingga memperpanjang tren pelemahan pasar saham Indonesia.

Seluruh sektor mengalami koreksi pada perdagangan hari itu. Tekanan paling dalam terjadi pada sektor basic materials yang turun hingga 5,54 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengakui kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai situasi yang normal. Menurutnya, pelemahan berkepanjangan harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab,” ujar Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Baca Juga: Ingria Catat Laba Bersih 32,21%

Hasan mengatakan OJK bersama Bursa Efek Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan akan melakukan pembenahan menyeluruh terhadap industri pasar modal. Langkah itu dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.

“Kami tentu bersama Pak Jeffrey, SRO lain dan seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong perbaikan-perbaikan secara terukur dan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Hasan, pasar modal kini memasuki era baru ketika kepercayaan menjadi aset terpenting. Karena itu, regulator harus memastikan ekosistem investasi tetap sehat, transparan, dan kredibel.

Hasan menilai perbaikan pasar modal menjadi sangat penting seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional. Pasar modal diharapkan kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian Indonesia.

“Nah di sinilah pasar modal kami yakini harus kita kembalikan kepada peran sentralnya yang semakin strategis yaitu menjadi mesin penggerak utama pembentukan modal jangka panjang, dan menjadi pusat investasi untuk dapat mendukung pembiayaan pembangunan nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Hasan.

Di tengah tekanan yang terjadi, Hasan menilai perkembangan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang masih menunjukkan tren positif. Hingga 26 Juni 2026, jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia telah mencapai 957 emiten.

Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar 440 emiten pada 2011. Kondisi itu dinilai mencerminkan semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.

Selain itu, jumlah investor juga terus bertambah. Hingga saat ini tercatat sekitar 28,81 juta investor telah berpartisipasi di pasar modal Indonesia, dengan pertumbuhan mencapai 41,45 persen secara year to date.

Hasan menegaskan mayoritas investor saat ini merupakan investor muda dan pemula. Karena itu, OJK berkomitmen memastikan mereka memperoleh informasi yang akurat agar kepercayaan terhadap pasar modal tetap terjaga.

“Ini menjadi titipan amanah yang luar biasa besar karena terkonfirmasi mayoritas investor kita adalah investor pemula berusia muda yang tentu membutuhkan selain dorongan untuk pemahaman secara mendalam juga harus kita pastikan mendapatkan informasi yang betul-betul tervalidasi dan berimbang,” pungkas Hasan.

Sepanjang Juni 2026, IHSG telah terkoreksi sekitar 7,9 persen. Sementara secara year to date, indeks tercatat merosot hingga 35,49 persen, menjadikan pasar saham Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah bursa regional yang mulai kembali menguat.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *