Tangkapan layar kurva IHSG dalam enam bulan terakhir mengalami penurunan sebesar 35,49%. 

Beranda / Ekonomi / IHSG Tertekan Imbas Ketidakpastian Kebijakan

IHSG Tertekan Imbas Ketidakpastian Kebijakan

PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini mengalami tekanan berat dibandingkan bursa regional akibat kombinasi ketidakpastian kebijakan domestik dan sentimen negatif global.

Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia sekaligus Analis Pasar Modal, Chang-kun Shin mengungkapkan bahwa pasar saat ini berada dalam fase sangat sensitif terhadap arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah.

Menurut Shin, faktor utama yang memicu pelemahan IHSG adalah ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Investor saat ini sangat membutuhkan konsistensi, kepastian (predictability), serta eksekusi kebijakan yang kredibel untuk memulihkan kepercayaan mereka.

Ketidakpastian terkait belanja fiskal serta reformasi pasar modal dinilai memperkuat keraguan pasar.

Selain itu, regulasi baru seperti Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) serta mekanisme perdagangan bursa, termasuk kebijakan Full Call Auction (FCA), menjadi alasan kuat para investor untuk memilih sikap wait and see.

Baca Juga: Ingria Catat Laba Bersih 32,21%

“Ketidakpastian terkait belanja fiskal, reformasi pasar modal, maupun regulasi baru seperti UU P2SK dan FCA turut memperkuat sikap wait and see di kalangan investor,” kata Shin saat dihubungi PravadaNews, Selasa (30/6/2026).

Tekanan psikologis pasar kian diperparah oleh merosotnya nilai tukar Rupiah. Shin menjelaskan bahwa pelemahan mata uang garuda ini berdampak langsung pada meningkatnya tekanan inflasi domestik.

Kondisi tersebut memicu ekspektasi pasar bahwa Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan mengerek suku bunga acuan. Rentetan efek domino inilah yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham dan memicu koreksi tajam pada IHSG.

“Pelemahan Rupiah meningkatkan tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham,” ujarnya.

Dari sisi eksternal, kata dia, pasar modal Indonesia juga harus menghadapi badai rebalancing aset global. Kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang masih tinggi dan penguatan dolar AS menjadi katalis negatif paling dominan.

Faktor global ini memicu aksi ambil untung masif dan pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar Indonesia, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip).

Menatap paruh kedua tahun ini, Kiwoom Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Kendati demikian, Shin menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya tetap berada dalam kondisi yang solid.

“Pemulihan pasar akan sangat bergantung pada pulihnya kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, stabilisasi Rupiah, percepatan birokrasi dan proses administrasi, serta membaiknya sentimen investor asing,” pungkas Shin.

Di lain pihak, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengakui kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai situasi yang normal. Menurutnya, pelemahan berkepanjangan harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab,” ujar Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *