PravadaNews – Sebelum nama Cinema XXI dikenal di berbagai pusat perbelanjaan, perjalanan jaringan bioskop tersebut dimulai melalui pembukaan Studio 21 pada 1987.
Studio 21 membawa konsep beberapa ruang pertunjukan dalam satu gedung. Penonton dapat memilih film berbeda tanpa harus berpindah ke bioskop lain.
Setahun setelah Studio 21 dibuka, badan usaha pengelolanya berdiri dengan nama PT Subentra Nusantara pada 1988. Perusahaan kemudian berubah menjadi PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk.
Kemudian jejak merek XXI dimulai pada Januari 2004 melalui pembukaan Studio XXI di Plaza Indonesia Entertainment X’nter, Jakarta, dengan empat teater Deluxe dan dua The Premiere.
“Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri bioskop, Cinema XXI berkomitmen untuk senantiasa menghadirkan fasilitas terbaik di kelasnya dan pengalaman menonton film yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia,” dilansir redaksi dalam dalam laman resmi Cinema XXI, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Sebelum Studio XXI hadir, pengelola lebih dahulu membuka The Premiere pada 2002. Layanan premium itu menawarkan pengalaman menonton dengan ruang yang lebih nyaman.
Perubahan berikutnya menyentuh cara pembelian tiket melalui peluncuran m.tix pada 2006. Sistem berbasis pesan singkat membantu penonton melakukan reservasi tanpa mengantre di loket.
Pengembangan teknologi berlanjut melalui layar digital IMAX komersial pertama di Indonesia pada 2012. Enam tahun kemudian, jaringan Cinema XXI membuka layar ke-1.000.
Pada 2020, Cinema XXI kembali memperbarui pengalaman menonton melalui IMAX with Laser. Pemesanan makanan secara daring kemudian masuk ke aplikasi m.tix melalui m.food pada 2021.
Senada dengan itu, Sistem Penawaran Umum Elektronik atau e-IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bioskop dan makanan sebagai kegiatan usaha yang berbeda. Kegiatan bioskop berasal dari penjualan tiket, sedangkan makanan dan minuman menjadi layanan pendamping.
“Perseroan merupakan perusahaan yang fokus dalam pemutaran film dan penyediaan F&B untuk memberikan pengalaman hiburan yang berkualitas tinggi,” tulis e-IPO dalam profil perusahaan.
PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk kemudian mencatatkan saham di BEI pada 2 Agustus 2023 dengan kode emiten CNMA. Langkah itu menempatkan pengelola Cinema XXI sebagai perusahaan terbuka dengan bidang usaha bioskop dan restoran.
Per 31 Maret 2026, Cinema XXI mengoperasikan 268 lokasi dengan 1.391 layar di Indonesia. Perkembangannya mengikuti rekor lebih dari 14 juta penonton sepanjang April 2025.
Adapun harga tiket Cinema XXI berbeda menurut lokasi, hari penayangan, dan jenis studio. Jadwal sejumlah cabang pada Juli 2026 menunjukkan tiket reguler berada pada kisaran Rp20.000 sampai Rp75.000.















