PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek apabila gagal bertahan di level 6.130.
Sentimen global yang masih dibayangi keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), ditambah aksi jual investor asing, menjadi faktor yang berpotensi membatasi ruang penguatan pasar.
Berdasarkan riset harian PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, IHSG ditutup melemah 0,89% ke level 6.130,59 pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Sepanjang sesi, indeks bergerak di kisaran 6.130,59 hingga 6.199,44.
Pelemahan IHSG terjadi seiring aksi jual investor asing yang membukukan net sell sebesar Rp788,57 miliar di pasar reguler dan mencapai Rp1,07 triliun secara keseluruhan di seluruh pasar.
“Tekanan pada bursa saham turut dibayangi oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencatatkan nilai mencapai Rp788,57 miliar di pasar reguler dan Rp1,07 triliun secara all market,” kata Direktur PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Changkun Shin, Rabu (29/7/2026).
Dana asing tercatat masuk ke saham TINS, BRPT, BBCA, GGRM, dan RAJA, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada BMRI, BBRI, TPIA, ANTM, dan BUMI.
Selain dipengaruhi arus modal asing, pergerakan IHSG juga dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.100 per dolar AS menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan moneter The Fed.
Di dalam negeri, pasar juga mencermati ketidakpastian setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Secara teknikal, Kiwoom menilai IHSG masih menunjukkan sinyal pelemahan setelah membentuk pola bearish candle dan ditutup tepat di area Fibonacci retracement 38,2% pada level 6.130.
Posisi indeks juga berada di bawah indikator EMA10 di level 6.175 dan sedikit di atas EMA20 di level 6.120.
Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari turun ke level 50,7. Kondisi tersebut menunjukkan momentum penguatan mulai melemah dan mendekati area netral sehingga membuka peluang koreksi lanjutan apabila tekanan jual terus berlanjut.
Menurut Kiwoom, apabila level support 6.130 tidak mampu dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 6.050 hingga 6.040. Setelah itu, indeks berpeluang menguji level support berikutnya di 5.987 hingga Fibonacci retracement 61,8% di sekitar 5.930.
Sebaliknya, apabila mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan masih terbuka. Namun, IHSG perlu kembali menembus EMA10 di level 6.175 sebelum menguji area resistance 6.199 hingga 6.220.
“Kondisi ini mengindikasikan momentum jangka pendek kembali melemah setelah gagal mempertahankan penguatan sebelumnya,” kata dia.
Di sisi global, pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang keputusan suku bunga The Fed serta rilis laporan keuangan Microsoft dan Meta.
Investor akan mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS sekaligus prospek belanja modal perusahaan teknologi yang dinilai menjadi penentu sentimen pasar dalam jangka pendek.
Melihat kondisi tersebut, Kiwoom menyarankan investor menerapkan strategi wait and see sembari memantau pergerakan IHSG di area support 6.130.
“Investor yang telah memperoleh keuntungan juga disarankan menerapkan trailing stop atau melakukan profit taking secara bertahap apabila indeks menembus level tersebut,” ujarnya.















