PravadaNews – Kementerian Perdagangan (Kemendag) bidik potensi transaksi sebesar US$17,5 miliar pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Pada TEI tahun lalu transaksi tercatat sebesar US$22,83 miliar.
Diketahui, target tahun ini naik US$1 miliar dibanding sasaran TEI 2025 sebesar US$16,5 miliar, tapi masih lebih rendah US$5,33 miliar dari realisasi tahun lalu. Sebelumnya, TEI 2025 juga diikuti 1.619 perusahaan, 34.550 pengunjung, serta 8.045 pembeli internasional.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan persiapan TEI 2026 terus berjalan menjelang pembukaan, dengan sekitar 7.000 pembeli dari 112 negara telah terdaftar dan lebih dari 5.000 di antaranya berasal dari luar negeri.
“Target Trade Expo Indonesia tahun 2026 ini adalah memasarkan exhibitor sebanyak 1.500 perusahaan, kemudian visitor atau pengunjung sebanyak 30.000 orang, serta potensi transaksi sebesar 17,5 miliar USD,” tutur Fajarini dalam konferensi pers di ICE BSD, Rabu (30/9/2026).
Pertemuan dengan calon pembeli juga mulai dilakukan sebelum pameran melalui pre-business matching dan sesi pitching yang telah berlangsung dalam sebulan terakhir. Skema tersebut memberi ruang bagi pelaku usaha untuk lebih dahulu mengenalkan produk sebelum bertemu langsung dengan pembeli di lokasi pameran.
Fajarini menjelaskan, sasaran transaksi 2026 dinaikkan dibanding target penyelenggaraan tahun sebelumnya
“Jika dilihat dari sisi target, angka yang ditetapkan naik. Tahun lalu target kita sebesar 16 miliar USD, tetapi ternyata capaiannya mencapai 22 miliar USD. Nah, kali ini kita naikkan targetnya menjadi sebesar 17,5 miliar USD, mudah-mudahan capaiannya juga bisa melampaui,” lanjut Fajarini.
Dari sisi penyelenggara, Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti Vibiadhi Swasti Pradana menuturkan profil peserta pameran dan pembeli dipetakan agar pertemuan bisnis dapat dilakukan lebih terarah. Informasi itu mulai dikumpulkan melalui formulir yang diisi sebelum peserta masuk ke sistem penyelenggaraan.
Data peserta kemudian digunakan untuk mencocokkan kebutuhan pembeli dengan produk yang ditawarkan melalui business matching.
Setelah komunikasi awal terbentuk, calon pembeli dapat melihat langsung produk yang ditawarkan ketika datang ke area pameran.
“Setelah mereka masuk, mereka mendapatkan privilege yang tidak didapatkan dari perusahaan lain, yaitu adanya business matching yang dilibatkan oleh anggota bidang/penyelenggara untuk menemukan potensi transaksi,” kata Vibiadhi dalam kesempatan yang sama.
Penjaringan calon pembeli juga dilakukan melalui sosialisasi di luar negeri, termasuk untuk sektor furnitur. Vibiadhi menyebut, penyelenggara sempat bertemu dengan sekitar 30-40 calon pembeli dalam rangkaian kegiatan di Korea dan sebagian menunjukkan ketertarikan untuk datang ke TEI 2026.
Selain mempertemukan peserta dengan calon pembeli, penyelenggara menata kembali zonasi produk mulai dari klaster eksportir dan barang konsumsi hingga kawasan industri, jasa, fesyen, serta produk hadiah agar pembeli lebih mudah menemukan kelompok produk yang sesuai dengan kebutuhannya.















