Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono. (Foto: Dok. Tangkapan layar Youtube BPS)

Beranda / Ekonomi / El Nino Bayangi Panen Padi Akhir Tahun

El Nino Bayangi Panen Padi Akhir Tahun

PravadaNews – El Nino kembali membayangi pasokan beras masyarakat menjelang akhir 2026 setelah Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras September–November turun 11,95%. Hal itu juga diperkuat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi musim hujan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPSx Ateng Hartono, mengatakan curah hujan di mayoritas wilayah Indonesia pada Agustus 2026 berada pada kategori rendah sehingga kondisi tersebut dapat memengaruhi pertanaman padi pada bulan-bulan berikutnya.

Hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS mencatat lahan yang masih ditanami padi atau standing crop pada Agustus sebesar 28,07%. Proporsi ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2021, 2022, 2024, dan 2025 yang berada pada kisaran 31,16-34,15%.

Pada saat yang sama, luas panen padi Agustus turun 2,83% menjadi 1,08 juta hektare dan produksi padi berkurang 2,94% menjadi 5,46 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), sedangkan potensi luas panen September–November diperkirakan turun 12,97% menjadi 2,23 juta hektare.

“Penurunan luas standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada pada fase sebelum panen, yaitu fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan generatif. Kondisi ini tentunya berpotensi diikuti oleh penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya,” kata Ateng dalam Konferensi Pers BPS per Oktober, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, tanaman yang memasuki fase generatif umumnya akan dipanen satu bulan kemudian, sedangkan fase vegetatif akhir dan vegetatif awal masing-masing membutuhkan sekitar dua dan tiga bulan menuju panen.

Karena itu, kondisi pertanaman pada Agustus menjadi salah satu gambaran potensi panen hingga November.

“Namun, dampak El Nino yang tercermin pada potensi luas panen Januari sampai dengan November 2026 perlu menjadi perhatian kita bersama. Potensi luas panen padi Januari sampai dengan November 2026 diperkirakan sebesar 10,56 juta hektare,” tutur Ateng.

Tekanan produksi tersebut muncul ketika harga beras di tingkat penggilingan kembali naik pada September 2026, dengan harga premium meningkat 0,81% menjadi Rp15.185 per kilogram dan medium naik 0,87% menjadi Rp14.018 per kilogram.

Sebelumnya, Pemerintah mengumumkan tambahan alokasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium sebesar 1 juta ton, sementara Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Jumat (2/10) menerbitkan tambahan penugasan penyaluran 74,18 ribu ton setelah penugasan 828 ribu ton selesai disalurkan.

Di tengah ancaman El Nino ini, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai faktor iklim perlu dihadapi bersamaan dengan pembenahan tata kelola beras.

“Pemerintah selalu beralasan bahwa ini karena kondisi global, iklim, dampak El Nino, atau siklus kuartal kedua dan ketiga yang menurun, padahal, posisi kita sebelumnya sudah swasembada. Kalau sebelumnya kita bisa tanpa impor, mengapa sekarang kesulitan? Masalahnya, ada pihak-pihak tertentu yang tidak akan mendapat keuntungan besar jika tidak ada impor,” tegas trubus saat dihubungi, dikutip Sabtu (3/10).

Baginya, perbedaan produksi antardaerah seharusnya diatasi melalui distribusi yang lebih teratur dari wilayah surplus menuju daerah yang kekurangan.

Pemerintah juga dinilai perlu menjaga pengawasan agar gangguan pasokan tidak dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara tidak wajar.

“Jadi, penguatan tata kelola itu wajib dilakukan, khususnya pelayanan terkait perberasan. Di dalam kebijakan publik, ukurannya adalah bagaimana publik merasa puas dan kebutuhannya tercukupi. Pemerintah harusnya mampu menyediakan pasokan beras yang mencukupi,” jelas Pakar itu.

Trubus menyoroti pengendalian dampak El Nino membutuhkan koordinasi Kementerian Pertanian (Kementan), Bapanas, Perum Bulog, Kementerian Perdagangan (Kemendag), hingga Satgas Pangan.

Karena kebutuhan masyarakat cenderung meningkat menjelang akhir tahun, Trubus mendorong pengawasan pasokan dan harga diperkuat sejak awal agar penurunan potensi panen akibat El Nino tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar bagi konsumen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *