PravadaNews – Pada 1998, Indonesia limbung. Krisis moneter mengguncang sendi ekonomi, gejolak politik merangsek hingga ke pucuk kekuasaan. Presiden Soeharto lengser, digantikan oleh B. J. Habibie. Nilai rupiah terperosok, kepercayaan investor runtuh, dan pasar keuangan tersengal.
Namun, dari puing-puing krisis itulah fondasi baru pasar modal Indonesia dirancang.
Perdagangan Tanpa Warkat: Awal Transformasi
Dua tahun selepas reformasi, tepatnya 21 Juli 2000, sistem perdagangan tanpa warkat atau scripless trading mulai diterapkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sebuah lompatan penting. Sertifikat saham fisik yang sebelumnya berpindah tangan secara manual, perlahan ditinggalkan.
Digitalisasi kepemilikan efek bukan sekadar modernisasi teknis. Ia menjadi simbol pemulihan bahwa pasar modal Indonesia bersiap membuka diri kembali. Investor dipermudah, proses dipercepat, risiko administrasi ditekan. Arus investasi baru diharapkan mengalir.
Transformasi itu berlanjut pada 28 Maret 2002 ketika sistem remote trading diterapkan. Untuk pertama kalinya, transaksi tidak lagi terikat pada lantai bursa secara fisik. Aktivitas perdagangan saham pun menggeliat. Partisipasi pasar melebar, akses tak lagi eksklusif.
Fusi Dua Bursa, Satu Identitas
Langkah monumental terjadi pada 30 November 2007. Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya resmi bergabung, membentuk Bursa Efek Indonesia.
Baca juga: Jalan Panjang Lahirnya CFX
Penggabungan ini bukan sekadar penyederhanaan nama. Langkah ini menyatukan dua kekuatan: pasar saham yang sebelumnya dikelola di Jakarta, serta pasar derivatif dan obligasi yang berada di Surabaya. Dalam satu atap, integrasi produk keuangan menjadi lebih solid. Infrastruktur diperkuat, tata kelola diselaraskan, efisiensi ditingkatkan.
Bursa Indonesia memasuki babak baru dengan identitas tunggal dan visi modernisasi yang lebih tegas.
Era Digital dan JATS-NextG
Memasuki era baru, Bursa Efek Indonesia memusatkan perhatian pada digitalisasi sistem. Pada Maret 2009, diluncurkan JATS-NextG—pengembangan dari sistem perdagangan otomatis sebelumnya.
Langkah ini memperbaiki kapasitas, kecepatan, dan keandalan sistem perdagangan. Kualitas infrastruktur menjadi kunci dalam membangun kembali kepercayaan pasar yang sempat runtuh akibat krisis satu dekade sebelumnya.
Modernisasi tidak berhenti di sana. Seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya literasi keuangan masyarakat, BEI meluncurkan inovasi IPO elektronik atau e-IPO pada 2022.
Melalui sistem ini, proses penawaran umum perdana saham menjadi lebih transparan dan mudah diakses. Perusahaan yang hendak melantai di bursa memperoleh jalur yang lebih efisien. Di sisi lain, masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pembelian saham perdana.
Dari Trauma ke Transformasi
Perjalanan pasar modal Indonesia pasca-1998 adalah cerita tentang adaptasi. Dari krisis moneter dan pergantian rezim, hingga integrasi kelembagaan dan digitalisasi sistem.
Transformasi itu tidak berlangsung seketika. Ia dibangun lewat tahapan: scripless trading, remote trading, penggabungan bursa, pembaruan sistem JATS-NextG, hingga e-IPO.
Krisis pernah membuat pasar terpuruk. Namun justru dari tekanan itulah Bursa Efek Indonesia menemukan momentumnya berubah dari lantai bursa yang sarat kertas menjadi ekosistem digital yang terus bergerak mengikuti zaman.















