PravadaNews – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan mencabut sanksi terhadap sebagian tambahan pengiriman minyak mentah dari Rusia guna meredakan sementara kekurangan pasokan energi global.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah itu sedang ditinjau oleh Departemen Keuangan sebagai respons atas tekanan di pasar energi internasional. Bessent menyebut terdapat ratusan juta barel minyak Rusia yang saat ini berada di laut dan terkena pembatasan sanksi.
“Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya,” kata Bessent kepada Fox News dikutip Sabtu (7/3/2026).
“Ada ratusan juta barel minyak mentah yang dikenai sanksi berada di laut. Dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan pasokan,” sambung Bessent.
Pernyataan itu muncul setelah Washington sebelumnya memberikan pengecualian sementara selama 30 hari bagi kilang di India untuk membeli minyak Rusia. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
Baca juga: Iran Bantah Serangan Drone ke Azerbaijan | Pravada News
Menurut Bessent, India selama ini dinilai kooperatif dalam mengikuti kebijakan sanksi Washington. Bessent menyebut pemerintah AS sebelumnya telah meminta New Delhi menghentikan pembelian minyak Rusia yang terkena sanksi pada musim gugur lalu.
“India selama ini menjadi pihak yang sangat kooperatif. Kami telah meminta mereka untuk menghentikan pembelian minyak Rusia yang dikenai sanksi pada musim gugur ini, dan mereka melakukannya,” ujar Bessent.
Bessent menuturkan, bahwa India semula berencana mengganti pasokan tersebut dengan minyak mentah dari AS. Namun, kata Bessent, Departemen Keuangan akhirnya memberikan izin sementara impor minyak Rusia untuk membantu menutup kekurangan pasokan global.
“Pemerintahan Presiden Donald Trump akan terus mengumumkan langkah-langkah baru guna mengurangi tekanan di pasar energi,” ungkap Beseent.
Seperti diketahui, situasi pasar energi dunia belakangan memanas akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global.
Lalu lintas di selat tersebut dilaporkan melambat tajam setelah serangan militer oleh AS dan Israel terhadap Iran diikuti serangan balasan dari Teheran. Ketegangan itu turut mendorong kenaikan harga minyak serta memicu kekhawatiran baru terhadap ketersediaan pasokan energi dunia. (Sigit)















