PravadaNews – Ketersediaan stok beras nasional yang mencapai sekitar 3,53 juta ton pada akhir 2025, dinilai membuka peluang baru bagi Indonesia untuk mulai kembali menembus pasar beras global.
Adapun potensi menembus pasar global itu dapat diraih bukan hanya berfokus terhadap ketersediaan stok beras nasional melainkan berdasarkan strategi kemampuan pemerintah untuk memetakan peluang ekspor ke luar negeri.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menekankan agar pemerintah menyambut kabar itu dengan membantu membeli beras langsung dari petani dan segera membantu merumuskan peta jalan ekspor.
Sosok yang akrab disapa Alex itu menyebut ketersedian stok beras yang melimpah itu dapat menjadi momentum emas bagi pemerintah untuk mendorong swasembada beras baik di pasar lokal maupun internasional.
“Tantangan kita hari ini adalah menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya dalam merebut potensi pasar global,” kata Alex dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Baca juga: DPR Minta TNI Jelaskan soal Status Siaga 1
Alex meminta pihak pemerintah dapat membantu meringankan beban petani dengan memberikan subsidi pupuk dan juga bibit untuk menekan biaya produksi.
Di sisi lain, Alex juga mendorong pemerintah memberikan edukasi secara komprehensif kepada para petani dengan harapan kedepan akan banyak produk produk yang inovatif.
Alex menyebut, salah satu petani
yang cukup inovatif telah datang dari Sumatera Barat. Sosok petani itu bernama Ir Djoni. Ia berhasil membuat metode produk inovasi Sawah Pokok Murah.
Metode Sawah Pokok Murah itu telah diuji coba secara langsung di sejumlah daerah kabupaten dan kota di Sumatera Barat (Sumbar) dan dianggap cukup berhasil serta tidak kalah dengan konvensional.
Alex menjabarkan, bahwa metode Sawah Pokok Murah cukup mudah
direalisasikan lantaran tidak harus menggunakan media pengolahan tanah yang luas sehingga dapat menekan biaya produksi.
Adapun penggunaan media tanah di metode Sawah Pokok Murah itu tidak membutuhkan penggunaan pupuk kimia dan penyemprotan pestisida dan fungisida.
Alex menambahkan metode itu juga diprediksi relatif lebih kuat bertahan dari kondisi cuaca tropis di indonesia terutama saat cuaca kemarau sehingga memitigasi risiko gagal panen.
“Walaupun topografi daerahnya berbukit dan tidak memiliki hamparan sawah luas, Sumatera Barat sudah mampu mencapai swasembada beras sejak lama,” tutup Alex. (Gibran)















