PravadaNews- Organisasi tinju dunia International Boxing Federation (IBF) mencabut gelar juara dunia kelas menengah milik Janibek Alimkhanuly setelah petinju asal Kazakhstan itu dinyatakan positif menggunakan zat terlarang.
Laporan majalah tinju The Ring menyebutkan Alimkhanuly terbukti menggunakan meldonium, obat peningkat performa yang masuk daftar zat terlarang.
“Alimkhanuly dinyatakan positif menggunakan meldonium, zat terlarang, setelah pengujian pada pertengahan November 2025,” demikian laporan The Ring dikutip Kamis (12/3/2026).
Baca juga: Catur Tinju, Duel Otak dan Otot di Satu Arena
Adapun temuan itu berasal dari pengujian yang dilakukan Voluntary Anti-Doping Association (VADA) menjelang rencana pertarungan Alimkhanuly melawan Erislandy Lara pada November 2025.
Dalam pemeriksaan tersebut, VADA menemukan sampel A milik Alimkhanuly mengandung modulator metabolik terlarang berupa meldonium. Hasil itu kemudian dikonfirmasi kembali melalui pemeriksaan sampel B yang menunjukkan temuan serupa.
Setelah hasil pengujian dipastikan, IBF mengambil langkah administratif terhadap status gelar kelas menengah yang sebelumnya dipegang Alimkhanuly.
Di sisi lain, otoritas tinju yang berwenang juga menjatuhkan sanksi larangan bertanding kepada petinju tersebut. Larangan itu berlaku surut sejak 2 Desember 2025.
Sanksi tersebut membuat Alimkhanuly tidak dapat menjalani kewajiban mempertahankan gelarnya pada pertarungan wajib yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026.
Sesuai aturan IBF, seorang juara dunia harus melaksanakan pertarungan wajib dalam jangka waktu tertentu. Karena tidak dapat memenuhi kewajiban itu akibat sanksi doping, IBF akhirnya mencabut gelar Alimkhanuly agar sabuk juara tidak terlalu lama kosong dan divisi kelas menengah tetap berjalan.
Sebelum kasus tersebut mencuat, Alimkhanuly dikenal sebagai salah satu petinju kelas menengah yang sedang naik daun. Ia memiliki rekor tak terkalahkan dengan 17 kemenangan, termasuk 12 kemenangan melalui knockout.
Petinju Kazakhstan itu terakhir kali naik ring saat mengalahkan petinju Kongo, Anauel Ngamissengue, sebelum kasus doping yang memengaruhi status gelar juara dunia yang sebelumnya ia pegang terungkap.















