Ilustrasi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang tidak laik jalan. (Foto: Chat GPT)

Beranda / Nasional / Sopir Bus Pulo Gebang Dipastikan Lolos Tes Kesehatan

Sopir Bus Pulo Gebang Dipastikan Lolos Tes Kesehatan

PravadaNews – Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memastikan seluruh pengemudi bus yang melayani angkutan mudik Lebaran 2026 di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, telah melalui dan dinyatakan lolos serangkaian tes kesehatan sebelum diberangkatkan.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang selama perjalanan jarak jauh, sekaligus meminimalisir risiko kecelakaan akibat kondisi fisik pengemudi yang tidak prima.

Pemeriksaan kesehatan tersebut meliputi tes tekanan darah, pemeriksaan kondisi umum, hingga tes bebas alkohol dan narkoba yang dilakukan secara berkala oleh petugas gabungan. Dishub DKI Jakarta menegaskan bahwa pengemudi yang tidak memenuhi standar kesehatan tidak akan diizinkan untuk mengemudikan kendaraan hingga dinyatakan layak.

Baca juga: Puncak Mudik Terminal Diprediksi 18 Maret

Selain itu, pengawasan juga diperketat menjelang puncak arus mudik untuk memastikan seluruh armada dan awak bus dalam kondisi optimal. Dengan langkah ini, Dishub berharap pelaksanaan mudik Lebaran 2026 dapat berjalan aman, tertib, dan lancar, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan ke kampung halaman.

Dishub DKI menegaskan pengemudi yang tidak lolos tes kesehatan di terminal tersebut tidak diperkenankan untuk membawa pemudik pada Lebaran kali ini.

“Kalau memang hasil tes kesehatannya tidak memungkinkan, entah karena tekanan darah atau gula darah yang tinggi, tentu tidak diperkenankan. Kemarin sempat ditemukan satu orang dan langsung diganti sopirnya,” kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Ujang Harmawan di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2026).

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang selama perjalanan jarak jauh menuju berbagai daerah.

Ujang menegaskan pemeriksaan yang dilakukan bersama dengan tenaga medis dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu wajib diikuti oleh pengemudi bus yang akan membawa penumpang.

Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan kondisi fisik, di antaranya tekanan darah, kadar gula darah, serta kondisi kesehatan lain yang dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan sopir dalam mengemudi.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, petugas sempat menemukan satu sopir bus yang tidak diperkenankan mengemudi karena kondisi kesehatannya dinilai tidak memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan jauh.

Untuk menghindari risiko kecelakaan akibat kelalaian atau kondisi fisik yang menurun, sopir tersebut langsung digantikan oleh pengemudi lain.

Selain memastikan kondisi kesehatan sopir, pengelola terminal juga menyediakan fasilitas istirahat bagi pengemudi maupun penumpang yang datang dari berbagai daerah.

Fasilitas penginapan itu berada di Gedung A dan dapat dimanfaatkan dengan tarif yang terjangkau.

Menurut Ujang, fasilitas tersebut penting agar para sopir memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum kembali melanjutkan perjalanan membawa penumpang

“Di Gedung A ini, kita siapkan tempat penginapan bagi penumpang maupun driver yang mau beristirahat dengan tarif sekitar Rp15 ribu,” ucap Ujang.

Ujang menjelaskan Terminal Terpadu Pulo Gebang memiliki pembagian fungsi gedung untuk mempermudah pelayanan kepada pemudik.

Gedung B digunakan sebagai area pemberangkatan bus, Gedung A untuk layanan penumpang dan pengemudi, termasuk penginapan, sementara Gedung C difungsikan sebagai area kedatangan bus dari berbagai daerah sekaligus perkantoran pengelola terminal.

Melalui pemeriksaan kesehatan dan penyediaan fasilitas istirahat tersebut, Dishub DKI berharap perjalanan mudik dapat berlangsung aman, nyaman, dan minim risiko kecelakaan di jalan.

Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli melakukan pemantauan terhadap kesiapan angkutan Lebaran 2026 di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, pada Senin (16/3).

“Kemenaker melakukan pengecekan kesiapan bagi para pengemudi. Jadi, di sini dilakukan pengecekan kesehatan,” kata Yassierli di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Dalam pengecekan yang dilakukan, Yassierli menemukan pengemudi yang hendak membawa bus, namun hanya beristirahat sekitar dua jam dan memiliki tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut dinilai tidak ideal untuk mengemudi jarak jauh.

“Kalau kita bertemu pengemudi yang istirahatnya kurang, dia harus istirahat dulu atau diganti dengan pengemudi cadangan,” tutur Yassierli.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) mencatat sebagian besar pengemudi dinyatakan layak untuk mengemudi. Namun demikian, sekitar sepertiga pengemudi disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu karena belum dalam kondisi optimal.

Sementara itu, sekitar 10 persen pengemudi tidak direkomendasikan untuk mengemudi sehingga harus digantikan oleh pengemudi cadangan demi menjaga keselamatan perjalanan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *