PravadaNews – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan kinerja keuangan yang penuh tekanan pada tahun buku 2025.
Emiten penerbangan pelat merah ini kembali alami kerugian besar karena dipicu penurunan pendapatan dan beban keuangan yang membengkak.
Meski fundamental perusahaan sedang lesu, pergerakan saham GIAA di bursa justru menunjukkan tren positif yang signifikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Pada perdagangan Selasa (17/3) kemarin, harga saham GIAA melonjak 9,38 persen menjadi Rp70 per lembar. Namun nilai transaksinya hanya Rp2,78 miliar hingga penutupan perdagangan.
Baca Juga: Skytrax: Garuda Indonesia Turun Peringkat Jadi Maskapai Layanan Bintang 4
Lonjakan harga saham harian ini menjadi sorotan, mengingat secara operasional, Garuda Indonesia sedang berjuang menghadapi kenaikan kerugian yang drastis.
Meskipun harga sahamnya sejak awal tahun ini telah turun lebih dari 28 persen, data menunjukkan performa yang mengejutkan dalam periode jangka panjang.
Di sisi lain, rencana ekspansi maskapai ini terpaksa dikoreksi karena penyusutan tambahan modal dari Danantara.
Harga sahamnya sejak awal tahun ini pun telah turun lebih dari 28 persen. Namun dalam satu tahun terakhir, harga sahamnya telah mencatat kenaikan lebih dari 100 persen.
Hingga saat ini, mayoritas kepemilikan saham masih didominasi oleh pemerintah Indonesia melalui PT Danantara Asset Management sebesar 91,11 persen.
Sementara itu, PT Trans Airways milik pengusaha Chairul Tanjung memegang 1,80 persen saham. Investor kini terus memantau efektivitas penggunaan suntikan modal senilai Rp23,7 triliun di tengah pembatalan rencana penambahan armada pesawat.















