Ilustrasi beras. (Foto: dok PravadaNews)

Beranda / Nasional / Apa Kabar Beras Khusus?

Apa Kabar Beras Khusus?

PravadaNews – Di tengah fokus pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga beras pokok, keberadaan beras khusus kerap luput dari perhatian publik.

Padahal, komoditas ini memiliki peran tersendiri dalam ekosistem pangan nasional, terutama untuk memenuhi kebutuhan segmen tertentu yang tidak bisa dipenuhi oleh beras konsumsi umum.

Beras khusus pada dasarnya adalah jenis beras yang tidak umum dikonsumsi masyarakat luas. Produksinya di dalam negeri masih terbatas, sehingga sebagian besar kebutuhan dipenuhi melalui impor.

Beras ini bukan ditujukan sebagai bahan pangan utama sehari-hari, melainkan untuk kebutuhan spesifik seperti industri makanan, sektor perhotelan dan restoran, hingga konsumen dengan preferensi khusus.

Dalam praktiknya, beras khusus banyak digunakan sebagai bahan baku industri, seperti tepung beras, bihun, dan produk olahan lainnya.

Selain itu, sektor hotel, restoran, dan katering juga menjadi pengguna utama, terutama untuk menyajikan menu dengan standar tertentu.

Di sisi lain, konsumen dengan kebutuhan khusus, seperti penggemar masakan Jepang, India, atau mereka yang menjalani diet kesehatan, turut mendorong permintaan terhadap jenis beras ini.

Secara regulasi di Indonesia, kategori beras khusus mencakup berbagai jenis, di antaranya beras ketan, beras merah, beras hitam, beras organik, hingga beras fortifikasi yang telah diperkaya dengan kandungan gizi tertentu.

Selain itu, terdapat pula beras indikasi geografis dan beras kesehatan yang ditujukan untuk kebutuhan diet. Varietas tertentu yang belum atau tidak diproduksi di dalam negeri juga masuk dalam kelompok ini.

Sementara itu, di pasar global dan perdagangan impor, beberapa jenis beras khusus yang cukup dikenal antara lain Basmati dari India dan Pakistan, Japonica dari Jepang yang biasa digunakan untuk sushi, serta jasmine atau Thai Hom Mali dari Thailand.

Selain itu, terdapat pula broken rice atau beras patahan (menir) yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

Keberagaman jenis ini menunjukkan beras khusus tidak hanya identik dengan produk premium, tetapi juga mencakup kebutuhan industri dengan nilai tambah tertentu.

Dengan kata lain, segmen ini memiliki karakteristik pasar yang unik, mulai dari konsumsi eksklusif hingga kebutuhan produksi massal.

Dari sisi pasokan, Indonesia masih bergantung pada sejumlah negara pemasok utama seperti Myanmar, Thailand, dan India.

Dalam praktik perdagangan, negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat juga menjadi sumber untuk varietas tertentu.

Masing-masing negara memiliki keunggulan spesifik, seperti India dengan beras Basmati, Thailand dengan Jasmine, serta Jepang dengan Japonica.

Meski demikian, volume kebutuhan beras khusus di dalam negeri relatif kecil jika dibandingkan dengan total konsumsi beras nasional.

Berdasarkan data hasil perhitungan total kebutuhan beras khusus tahun 2023 oleh Badan Pangan
Nasional (Bapanas) sebesar 207.926 ton.

“Dengan rincian kebutuhan beras ketan 120.493 ton, beras Hom Mali 14.447 ton, beras Basmati 7.813 ton, beras Malaysia 983 ton, beras beraroma lainnya (beras Jasmine) 49.172 ton, dan beras setengah masak 15.018 ton,” tulis Bapannas dalam dokumennya dikutip Rabu (6/5/2026).

Selain itu, berdasarkan data BPS, realisasi impor beras khusus tahun 2022 sebesar 100.250 ton,
dengan rincian beras ketan 35.355 ton, beras Hom Mali 750 ton, beras Basmati 3.330 ton, beras beraroma lainnya (beras Jasmine) 7.100 ton, dan beras lainnya (beras Japonica) 53.715 ton.

Sementara itu, kebutuhan impor beras khusus dan industri pada 2024 dan 2025 berada pada kisaran 300.000 hingga 450.000 ton per tahun. Angka ini menegaskan beras khusus hanya menyasar segmen terbatas dan bukan konsumsi mayoritas masyarakat.

Meskipun volumenya kecil, beras khusus tetap memiliki nilai strategis. Selain mendukung sektor industri dan jasa, komoditas ini juga berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi jika dikembangkan secara serius di dalam negeri.

Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Produksi beras khusus memerlukan standar budidaya yang lebih spesifik, mulai dari varietas benih, teknik penanaman, hingga pengolahan pascapanen. Hal ini membuat biaya produksi lebih tinggi dan tidak semua petani mampu beralih ke segmen tersebut.

Di sisi lain, peluang tetap terbuka lebar. Tren gaya hidup sehat dan meningkatnya minat terhadap kuliner internasional menjadi faktor pendorong permintaan beras khusus.

Jika didukung dengan kebijakan yang tepat, bukan tidak mungkin Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus mengembangkan pasar domestik.

Ke depan, pengembangan beras khusus membutuhkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani. Dukungan riset, akses terhadap benih unggul, serta penguatan rantai distribusi menjadi kunci agar komoditas ini dapat berkembang lebih luas.

Dengan segala dinamika tersebut, pertanyaan “apa kabar beras khusus?” menggambarkan kondisi yang kompleks. Di satu sisi, kebutuhannya memang terbatas. Namun di sisi lain, potensi ekonominya cukup besar jika dikelola dengan strategi yang tepat.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *