PravadaNews – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) kembali meningkat menyusul memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran di pasar global karena berpotensi mengganggu stabilitas kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi dan distribusi energi dunia.
Para pelaku pasar internasional menilai eskalasi konflik di wilayah tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian baru terhadap pasokan energi global.
Salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama distribusi minyak mentah dari negara-negara Teluk menuju berbagai negara di dunia.
Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu jalur energi paling vital di dunia, karena sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Kuwait melewati perairan tersebut. Setiap potensi gangguan keamanan di kawasan ini dapat berdampak langsung terhadap kelancaran distribusi minyak ke pasar global.
Meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut langsung tercermin pada pergerakan harga energi di pasar internasional. Harga minyak dunia dilaporkan mengalami lonjakan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Iran: Kawasan Bisa Gelap Jika AS Serang Listrik | Pravada News
Pernyataan yang disampaikan melalui seorang pembawa acara di televisi pemerintah Iran, yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei, memperingatkan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Peringatan tersebut juga mengindikasikan kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di wilayah tersebut. Eskalasi retorika ini, yang muncul di tengah ketidakpastian politik di Iran, langsung memicu reaksi keras dari pasar energi global.
Komentar yang diduga berasal dari pemimpin baru Iran ini muncul hanya beberapa jam setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan peringatan serius tentang potensi penyusutan pasokan minyak global. IEA menekankan, jika kapal-kapal tidak dapat melanjutkan transit melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima produksi minyak global harian, maka pasar energi dunia akan menghadapi krisis pasokan yang signifikan.
IEA, dalam pernyataannya menyatakan “Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.” Pernyataan itu dikutip dari CNN pada Jumat (13/3/2026). Pernyataan ini juga menggarisbawahi betapa krusialnya Selat Hormuz bagi stabilitas pasokan energi dunia dan betapa rentannya pasar minyak global terhadap gejolak politik di kawasan tersebut.
Sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, harga minyak mentah Brent melonjak 9% menjadi di atas US$ 100 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan yang signifikan, mencapai di atas US$ 95 per barel. Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar tentang potensi gangguan pasokan minyak yang serius dan dampaknya terhadap ekonomi global.
Capital Economics, sebuah lembaga riset ekonomi terkemuka, memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran US$ 90-100 per barel dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika prediksi ini terbukti benar, Capital Economics memperingatkan kondisi ini berisiko mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara ekonomi utama. Kenaikan harga energi dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya beli konsumen dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan harga minyak global ini berpotensi memberikan tekanan bagi banyak negara, khususnya negara-negara pengimpor energi. Negara yang bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energi domestik berisiko menghadapi kenaikan biaya energi, yang pada akhirnya dapat memicu peningkatan inflasi.
Indonesia sebagai salah satu negara pengimpor minyak juga tidak terlepas dari potensi dampak tersebut. Lonjakan harga minyak dunia dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi domestik, mulai dari biaya transportasi, harga bahan bakar, hingga harga barang dan jasa yang sangat bergantung pada distribusi energi.
Selain itu, kenaikan harga energi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap anggaran negara, terutama jika pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap subsidi energi untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri. Kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan fiskal serta kebijakan ekonomi pemerintah ke depan.
Di tingkat global, ketidakpastian akibat konflik geopolitik juga membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih berhati-hati. Investor biasanya akan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas, yang pada gilirannya dapat memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.
Para analis menilai perkembangan konflik di Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah pergerakan harga energi dan stabilitas ekonomi global. Oleh karena itu, banyak negara dan pelaku pasar terus memantau situasi tersebut dengan cermat.
Jika ketegangan terus meningkat dan berdampak pada jalur distribusi energi strategis, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga oleh perekonomian global secara luas, termasuk negara-negara berkembang yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.















