Ilustrasi Pergerakan Saham (Foto: dok Instagram @beiidx)

Beranda / Ekonomi / IHSG Anjlok 2,66 Persen ke Level 8.016

IHSG Anjlok 2,66 Persen ke Level 8.016

PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup merosot 2,66 persen atau 218,65 poin ke level 8.016,83 pada perdagangan Senin sore. Pelemahan ini terjadi seiring tekanan bursa saham Asia dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke aset aman.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut terkoreksi 2,62 persen atau 21,87 poin ke posisi 812,49. Sejak pembukaan perdagangan, IHSG sudah bergerak di zona merah dan bertahan di teritori negatif hingga penutupan sesi kedua.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama aksi jual.

Baca juga: Sejarah Singkat BEJ dan Indonesia

“Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Menurut Ratna, lonjakan harga minyak mentah juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.

“Kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya inflasi yang apabila berlangsung lama dapat mendorong potensi kenaikan suku bunga di tingkat global,” kata Ratna.

Di tengah tekanan tersebut, kata Ratna, sektor energi menjadi penopang utama. Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, hanya sektor energi yang menguat 1,70 persen.

“Mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan IHSG lebih lanjut,” ungkap Ratna.

Sebaliknya, sepuluh sektor terkoreksi, dengan sektor barang konsumen nonprimer mencatat penurunan terdalam 7,41 persen, disusul sektor industri minus 5,38 persen dan infrastruktur minus 4,34 persen.

Dari sisi makroekonomi domestik, inflasi Februari 2026 tercatat 0,68 persen secara bulanan (mtm), berbalik dari deflasi 0,15 persen pada Januari 2026. Secara tahunan, inflasi naik menjadi 4,76 persen (yoy) dari 3,55 persen pada bulan sebelumnya, level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjelang Ramadan, serta efek basis rendah akibat diskon tarif listrik pada awal 2025.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan menyusut menjadi 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 dari 3,49 miliar dolar AS pada Januari 2025. Penurunan terjadi karena impor melonjak 18,21 persen (yoy), sedangkan ekspor hanya tumbuh 3,39 persen (yoy). Di sisi lain, aktivitas manufaktur masih ekspansif dengan PMI Februari di level 53,8, naik dari 52,6 pada Januari, didorong kenaikan permintaan domestik.

Sepanjang perdagangan, frekuensi transaksi mencapai 3,65 juta kali dengan nilai Rp 29,83 triliun dan volume 56,60 miliar saham. Sebanyak 108 saham menguat, 671 saham melemah, dan 41 saham stagnan.

Di kawasan Asia, mayoritas bursa juga bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Indeks Nikkei turun 1,35 persen, Hang Seng terkoreksi 2,14 persen, Kuala Lumpur melemah 0,96 persen, dan Strait Times turun 2,09 persen, sementara Shanghai menguat 0,47 persen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *