PravadaNews – Arus bahan baku dari luar negeri semakin deras ketika kegiatan industri dalam negeri justru menunjukkan geliat sepanjang paruh pertama 2026.
Kondisi itu terlihat pada Juni 2026 lalu ketika impor bahan baku dan penolong melonjak 38,94% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada saat berdekatan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026, sementara industri pengolahan tetap menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) dengan porsi 18,50%.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, melihat kedua kondisi tersebut dapat berjalan beriringan karena peningkatan produksi turut membutuhkan pasokan bahan baku.
“Impor bahan baku ini kan biasanya menandakan adanya ekspansi di industri. Jadi kalau misalnya sebuah industri itu impor bahan bakunya meningkat, berarti ini tandanya industri ini lagi bergeliat, lagi ekspansi, lagi meningkat produksinya,” jelas Heri saat dihubungi, Jumat (14/8/2026).
Kebutuhan ini biasanya bertambah ketika perusahaan memperbesar produksi, sehingga kenaikan bahan baku impor dapat mengikuti meningkatnya aktivitas di dalam pabrik.
Bagi industri, barang yang masuk juga tidak berhenti sebagai impor apabila kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah untuk pasar domestik maupun ekspor.
Namun, besarnya kebutuhan dari luar negeri membuat aktivitas produksi ikut bersentuhan dengan perubahan kondisi global, terutama ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
“Tetapi itu akan menjadi sebuah jebakan apabila ketika terjadi gejolak global,” lanjut Ekonom itu.
Besarnya kebutuhan tersebut juga tergambar dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Sepanjang Januari–Juni 2026, impor bahan baku dan penolong mencapai US$97,95 miliar atau tumbuh 18,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pergerakan serupa terlihat pada barang modal. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat impor mesin dan peralatan mekanis naik 17,43%, sedangkan mesin dan perlengkapan elektrik meningkat 19,63%.
“Tingginya impor mesin/peralatan mekanis dan mesin/perlengkapan elektrik mengindikasikan menguatnya aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri,” tulis Kemenko Perekonomian dalam laman resminya, dikutip Sabtu (15/8).
Dengan pergerakan ini, kenaikan impor sepanjang semester pertama 2026 banyak ditopang barang yang digunakan kembali dalam kegiatan produksi, sejalan dengan pertumbuhan industri pengolahan.














