Ilustrasi uang rupiah. (Foto: PravadaNews/Gemini IA)

Beranda / Ekonomi / Jelang Lebaran 2026 Rupiah Menguat

Jelang Lebaran 2026 Rupiah Menguat

PravadaNews – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (18/3/2026), menjelang periode libur panjang Lebaran 2026.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.26 WIB, rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp16.955 per dolar AS, menguat 0,25 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.997 pada Selasa (17/3).

Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian.

“Kalau ekonomi lagi lari kencang, makin kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat,” kata Purbaya kepada wartawan.

Baca juga: Proyeksi BI-Rate Tetap 4,75 Persen

Sejumlah pelaku pasar menilai apresiasi rupiah tidak terlepas dari sentimen optimisme menjelang libur Lebaran, di mana aktivitas ekonomi domestik cenderung meningkat dan mendorong perputaran likuiditas.

Selain itu, stabilitas fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga turut memberikan kepercayaan bagi investor untuk tetap menempatkan dananya di pasar keuangan dalam negeri.

Di sisi eksternal, kondisi pasar global yang mulai kondusif juga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Meredanya tekanan terhadap dolar AS serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif dari bank sentral utama dunia menjadi faktor pendukung pergerakan positif tersebut.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Penguatan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, meskipun pergerakannya akan cenderung terbatas seiring meningkatnya kehati-hatian investor menjelang libur panjang.

Peran otoritas moneter seperti Bank Indonesia dinilai krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang adaptif dan terukur, guna memastikan kepercayaan pasar tetap terjaga di tengah berbagai tantangan eksternal dan domestik.

Sementara itu, Dolar AS tercatat menahan pelemahan seiring sentimen risiko yang kembali muncul di pasar menjelang serangkaian keputusan penting bank sentral global.

Yen Jepang menguat dari level sebelumnya yang memunculkan kekhawatiran intervensi oleh Bank of Japan, menjelang pertemuan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dengan Presiden Donald Trump di Washington.

Sementara itu, euro stabil setelah dua hari menguat menjelang rapat European Central Bank (ECB).

Dolar tetap menjadi satu-satunya mata uang safe haven selama krisis Timur Tengah yang kini memasuki minggu ketiga.

Konflik kembali memanas setelah Iran mengonfirmasi kematian kepala keamanan mereka, Ali Larijani, oleh Israel, tokoh paling senior yang menjadi target sejak hari pertama perang AS-Israel terhadap Iran.

“Volatilitas sebagian besar mereda karena pergerakan harga energi yang relatif tenang semalam. Tapi risiko sama sekali belum berkurang,” ujar Kyle Rodda, analis senior di capital.com.

“Bahkan, ini bisa memicu pergerakan risk-on yang cepat di pasar, seiring AS tampak menguasai kendali Selat Hormuz dari Iran,” tambahnya.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, diperdagangkan di 99,56 setelah turun selama dua hari berturut-turut.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *