Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri (kedua kiri) saat melakukan pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3/2026). Pertemuan yang membahas persatuan dan semangat kebangsaan itu bertujuan untuk mempererat silaturahim menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. ANTARA FOTO/BPMI Setpres/Laily Rachev/hma/wsj.

Beranda / Politik / Pertemuan Prabowo-Megawati Panggilan Persatuan

Pertemuan Prabowo-Megawati Panggilan Persatuan

PravadaNews – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta, Kamis (19/3), merupakan sinyal kuat bagi persatuan nasional di tengah ketidakpastian global.

“Pertemuan Prabowo-Megawati harus dibaca sebagai panggilan sejarah untuk menjaga keutuhan NKRI di tengah badai dunia,” ujar Co-Founder Forum Intelektual Muda Muhammad Sutisna dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Jumat (20/3/2026).

Baca juga : Muzani Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Kesatuan

Sutisna mengatakan Indonesia tidak boleh terpecah oleh ego kelompok atau perbedaan politik.

Sutisna mendukung pendekatan kebijakan yang mengutamakan skala prioritas dan urgensi.

“Situasi global saat ini benar-benar menguji ketahanan setiap bangsa. Indonesia tidak boleh terpecah oleh perbedaan politik atau ego kelompok,” ujar Sutisna.

Adapun Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan bahwa pada pertemuan itu, Megawati memberi masukan kepada Presiden Prabowo mengenai pendekatan kebijakan yang berpijak pada sense of priority dan sense of urgency.

Sutisna menekankan kedua prinsip tersebut harus menjadi landasan setiap keputusan strategis pemerintahan.

Sutisna menjelaskan bahwa sense of priority artinya fokus pada hal-hal yang benar-benar menentukan kelangsungan hidup bangsa.

Sense of priority mencakup ketahanan pangan, kemandirian energi, perlindungan rakyat kecil, penguatan industri dalam negeri, dan diplomasi yang tegas,” jelas Sutisna.

Sutisna juga memaparkan makna urgensi dalam pengambilan keputusan nasional bagi kepentingan rakyat. “Sense of urgency berarti kita tidak boleh lagi menunda langkah besar hanya karena pertimbangan politik jangka pendek,” tambah Sutisna.

Menurut Sutisna, pertemuan tersebut juga membahas peran historis Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 serta Gerakan Non-Blok. Kedua tokoh bangsa itu berkomitmen agar Indonesia kembali menjadi penyeimbang kekuatan global melalui politik luar negeri bebas aktif.

“Politik bebas aktif bukan sikap diam, melainkan sikap aktif membela perdamaian, kedaulatan bangsa-bangsa kecil, dan tata dunia yang lebih adil,” kata Sutisna.

Sutisna menambahkan pertemuan Prabowo dengan Megawati sebagai wujud nyata nilai gotong royong dan musyawarah mufakat bangsa. Sutisna menyebut, dialog antar tokoh nasional ini membuktikan bahwa persatuan merupakan pilihan realistis agar bangsa tetap berdiri tegak.

Sutisna menambahkan, Forum Intelektual Muda mengajak seluruh anak bangsa dari berbagai latar belakang untuk ikut merajut persatuan nasional. Sutisna mengimbau agar ketidakpastian global tidak memecah belah bangsa dan merusak fokus kerja keras.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *