PravadaNews – Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan tidak akan terlibat dalam operasi militer apa pun untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran global atas potensi terganggunya jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Macron menekanka, Prancis tetap mengedepankan pendekatan diplomatik dan deeskalasi dalam menyikapi ketegangan yang terjadi. Macron juga mengingatkan setiap langkah militer berisiko memperburuk situasi dan memperluas konflik, sehingga diperlukan upaya kolektif dari komunitas internasional untuk menjaga stabilitas kawasan serta memastikan keamanan jalur perdagangan global tanpa memperuncing ketegangan yang ada.
Baca juga: Ancaman Iran Putus Kabel Internet Laut
“Kami bukan pihak yang terlibat konflik tersebut. Oleh karena itu, Prancis tak akan pernah terlibat dalam operasi untuk membuka atau membebaskan Selat Hormuz dalam kondisi saat ini,” kata Macron dikutip Rabu (18/3/2026).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Macron telah menyatakan kesediaannya untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz guna memastikan kebebasan navigasi.
Pada 14 Maret, Trump juga meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk menjaga keamanan pelayaran.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan kerusakan dan menewaskan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut menyebabkan terhentinya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan itu juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.















