Ilustrasi uang Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Istimewa)

Beranda / Ekonomi / Proyeksi BI-Rate Tetap 4,75 Persen

Proyeksi BI-Rate Tetap 4,75 Persen

PravadaNews – Sejumlah ekonom memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) akan tetap dipertahankan pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Maret 2026 yang hasilnya dijadwalkan diumumkan pada Selasa (17/3/2026) siang ini.

Proyeksi tersebut didasarkan pada pertimbangan masih kuatnya tekanan eksternal yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Para analis menilai, dinamika global seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang masih ketat, penguatan dolar AS, serta tensi geopolitik yang belum mereda menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia dinilai cenderung mengambil langkah hati-hati dengan menahan suku bunga guna menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Baca juga: Pagi Ini Rupiah Menguat ke Rp16.968 per Dolar AS

Selain faktor eksternal, inflasi dalam negeri yang relatif terkendali juga menjadi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan. Dengan mempertahankan BI-Rate, otoritas moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.

Keputusan RDG BI Maret 2026 ini pun akan menjadi perhatian pelaku pasar, mengingat arah kebijakan moneter ke depan dinilai sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global dan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

“Tekanan eksternal masih cukup kuat dan daya tarik aset rupiah perlu dipertahankan,” kata Kepala Ekonom BCA David Sumual.

David menambahkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih bergantung pada seberapa cepat perang antara Amerika Serikat (AS)-Iran berakhir dan outlook sovereign rating Indonesia ke depan.

Dihubungi terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, konflik yang berkepanjangan akan berdampak pada kenaikan harga minyak global dan inflasi global.

Pasar juga telah merevisi prospek pemotongan suku bunga The Fed, yang kini diperkirakan hanya terjadi satu kali pada tahun ini, kemungkinan pada Desember 2026. Artinya, imbuh Faisal, ruang pemotongan BI-Rate juga akan semakin terbatas dan dalam jangka pendek BI-Rate cenderung digunakan untuk menjaga stabilitas.

“Jika Fed rate cut sekali terjadi, kemungkinan BI-Rate cut juga terjadi sekali di tahun ini,” kata Faisal.

Namun, jika tensi geopolitik semakin meningkat dan berlangsung lama, serta harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel, maka ada kemungkinan tidak terjadi pemotongan suku bunga, bahkan beralih ke sikap yang lebih hawkish (menaikkan suku bunga).

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman memandang peluang penguatan rupiah tetap ada, tetapi dalam jangka pendek masih dibayangi faktor eksternal yang kuat.

Menurutnya, penguatan rupiah dan masuknya kembali arus modal asing baru akan lebih solid jika stabilitas global membaik dan fundamental domestik terutama fiskal, inflasi, serta kredibilitas kebijakan tetap terjaga.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan per 12 Maret 2026, Indonesia mencatat total arus keluar modal sebesar 0,63 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir (dibandingkan dengan 13 Februari 2026), dan arus keluar sebesar 0,75 miliar dolar AS sejak awal meletusnya perang AS-Iran.

Seiring dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah mengalami kenaikan baik pada tenor pendek maupun panjang, di mana tenor 1 tahun meningkat 83 basis poin dari 4,82 persen pada 18 Februari 2026 menjadi 5,65 persen pada 13 Maret 2026, sementara tenor 10 tahun naik 36 basis poin dari 6,39 persen menjadi 6,75 persen pada periode yang sama.

“Kenaikan imbal hasil pada kedua tenor secara bersamaan mengindikasikan bahwa pasar tengah memperhitungkan ketidakpastian yang meningkat terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek yang didorong oleh arus keluar modal, tekanan nilai tukar, serta potensi memburuknya kondisi fiskal akibat guncangan harga minyak,” jelas Riefky.

Per 13 Maret 2026, rupiah telah melemah mendekati level terendahnya dalam beberapa bulan terakhir, terdepresiasi sebesar 1,6 persen secara year to date (ytd) dan sekitar 1 persen sejak mulainya konflik AS-Iran.

Secara tahunan, rupiah telah kehilangan sekitar 3,64 persen (year on year/yoy) nilainya terhadap dolar AS.

Selain Indonesia, perang AS-Iran juga menekan banyak mata uang negara berkembang. Meski demikian, catat Riefky, tidak semua mata uang negara berkembang mengalami pelemahan.

Argentina, Malaysia, Brasil, dan China mencatat apresiasi secara ytd terhadap dolar AS. Sementara itu, Indonesia bersama Filipina, Rusia, Afrika Selatan, Turki, India, dan Thailand tercatat mengalami depresiasi secara ytd.

“Terlepas dari hal tersebut, depresiasi rupiah masih tergolong moderat dibandingkan beberapa negara lain, mencerminkan upaya aktif Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar,” ujar Riefky.

Apabila BI memangkas suku bunga acuannya dalam RDG BI Maret ini, Riefky pun mengingatkan berkurangnya selisih suku bunga yang terjadi dapat menambah tekanan depresiasi pada rupiah yang sudah melemah.

Di samping itu, perang AS-Iran memunculkan prospek tekanan inflasi dari harga minyak dan depresiasi nilai tukar sehingga membatasi ruang untuk pemangkasan suku bunga yang berpotensi memperburuk risiko inflasi.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *