PravadaNews – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin terpantau melemah tipis. Mata uang Indonesia ditutup di level Rp17.105 per dolar AS, turun 1 poin atau 0,01 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.104. Sementara itu, kurs JISDOR Bank Indonesia juga melemah ke angka Rp17.122 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan ini sangat dipengaruhi oleh situasi panas di Timur Tengah, khususnya rencana blokade ketat yang dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz menyusul gagalnya perundingan damai.
“Dipengaruhi upaya blokade AS menyusul kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu,” ucap Ibrahim, di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp16.986 per Dolar AS
Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut negaranya akan memblokade jalur strategis tersebut. Blokade ini berlaku imparsial untuk semua kapal dari negara mana pun yang mau masuk atau keluar pelabuhan Iran.
Kebijakan ini langsung mendapat respons keras. Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal militer yang mendekat akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas. Ketegangan ini jelas mengganggu stabilitas pasar global.
Meski nilai tukar sedang tertekan, ada kabar baik dari sisi fundamental ekonomi. Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 akan mencapai 5,2 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi tahun lalu yang 5,1 persen, meski masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
“Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1 persen,” jelas Ibrahim.















