PravadaNews – Perum Bulog Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) memastikan ketersediaan stok pangan pokok, khususnya beras dan minyak goreng, dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran 2026.
Jaminan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi menghadapi lonjakan permintaan yang biasanya terjadi menjelang hingga pasca Hari Raya Idulfitri.
Pihak Bulog menyebutkan cadangan beras pemerintah serta distribusi minyak goreng telah disiapkan secara optimal melalui jaringan gudang dan mitra distribusi di wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya.
Selain menjaga stabilitas pasokan, Bulog juga berkomitmen untuk mengendalikan harga agar tetap terjangkau di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat, sehingga kebutuhan pokok selama momentum Lebaran dapat terpenuhi tanpa kendala.
Baca juga: Daya Beli Masyarakat Melemah
Kepala Cabang Bulog Tanjungpinang Arief Alhadihaq mengatakan, pihaknya telah menyuplai pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan MinyaKita secara merata kepada mitra rumah pangan kita (RPK) sebelum libur Idulfitri.
“Masing-masing RPK, sudah mengambil beras SPHP satu sampai dua ton. Kalau MinyaKita mencapai ratusan dus,” kata Arief di Tanjungpinang, Kamis (19/3/2026).
Menurut Arief, pasokan pangan itu diprediksi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai sepekan ke depan, karena Bulog Tanjungpinang sudah kembali beroperasi pada Rabu (25/3) mendatang.
Oleh karena itu, Arief mengimbau masyarakat tidak perlu belanja berlebihan (panic buying) untuk kebutuhan pokok di musim libur Idulfitri, karena ketersediaan bahan pangan aman, bahkan bertahan sampai tiga bulan ke depan.
Saat ini stok beras SPHP di gudang Bulog Tanjungpinang 2.250 ton, lalu beras premium 2 ton, dan MinyaKita 40 ribu liter.
“Untuk beras SPHP ada penambahan 2.000 ton secara bertahap setelah Lebaran, termasuk MinyaKita,” ucap Arief.
Kepala Bulog memastikan harga beras SPHP dan MinyaKita masih sesuai ketetapan harga pemerintah atau harga eceran tertinggi (HET).
Bulog terus memantau perkembangan harga pangan di RPK, toko, ritel modern sampai maupun pengecer yang bekerja sama dengan Bulog Tanjungpinang.
“Bagi yang melanggar atau menjual harga di atas HET, bis terancam putus kerja sama dengan Bulog bahkan ditutup usahanya,” demikian Arief.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, stok pangan untuk kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran Idulfitri 1446 Hijriah, aman tapi daging ayam broiler dan cabai rawit masuk kategori “zona merah”.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Mataram Sudirman di Mataram mengatakan, untuk stok pangan seperti beras, daging, minyak goreng, gula, dan bumbu-bumbuan sejauh ini relatif aman dan mencukupi.
“Tapi untuk daging ayam broiler dan cabai rawit masuk kategori ‘zona merah’, karena stok terbatas tapi kebutuhan meningkat sehingga harga naik menjelang Lebaran,” kata Sudirman.
Untuk harga ayam broiler saat ini menyentuh angka hingga Rp50.000 per kilogram dari harga normal Rp35.000-Rp40.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit kembali naik hingga menjadi Rp130.000 per kilogram, dari harga per tanggal 13 Maret Rp70.000 per kilogram.
Sementara itu, harga komoditas pangan lainnya seperti beras dan daging sapi dilaporkan masih dalam posisi normal dan stabil.
Kenaikan harga itu dipicu oleh dua faktor Utama, yakni peningkatan kebutuhan masyarakat yang melonjak tajam menjelang Lebaran, dan penurunan stok di tingkat lokal untuk kedua komoditas tersebut.
“Dua faktor itulah, yang memicu kenaikan terhadap komoditas tersebut,” kata Sudirman.
Terkait dengan itu, sebagai langkah antisipasi Dinas Ketahanan Pangan Kota Mataram bersama Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan setempat terus melakukan pengawasan ketat setiap hari.
“Kami dari tim Satgas harus turun setiap hari untuk memantau terus dan tingkatkan koordinasi lintas sektor. Jangan sampai distributor mengambil keuntungan terlalu tinggi,” kata Sudirman.
Koordinasi dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga pemerintah pusat. Satgas Pangan berkomitmen untuk terus mengawal rantai distribusi agar harga tetap terjangkau oleh masyarakat meski di tengah tingginya permintaan.
“Dengan kondisi ini, kami berharap masyarakat tetap tenang dan tidak panik dengan belanja sesuai kebutuhan,” pungkas Sudirman.















