PravadaNNews – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah, isu ketahanan pangan kembali menjadi perhatian utama pemerintah.
Kondisi iklim yang tidak menentu, mulai dari kekeringan panjang hingga curah hujan tinggi yang berpotensi merusak hasil panen, menuntut adanya langkah antisipatif yang kuat dan terencana.
Dalam konteks ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan keberadaan cadangan pangan tidak sekadar menjadi pelengkap kebijakan, melainkan merupakan soko guru yang menentukan kemampuan suatu wilayah dalam menjaga stabilitas pasokan dan menghadapi berbagai risiko krisis pangan akibat tekanan iklim ekstrem.
“Cadangan pangan ini akan menjadi soko guru ketahanan pangan suatu wilayah yang akan mencerminkan cenderung lebih tahan atau rentan manakala terjadi gangguan produksi, banjir, atau gagal panen,” kata Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas Sri Nuryanti di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Harga Pangan Tekan Inflasi Papua
Selain masalah produksi, Sri menjelaskan, gangguan juga dapat terjadi pada rantai distribusi, seperti akses jalan atau jembatan yang terputus sehingga pasokan dari daerah sentra menuju pasar induk terhambat.
Oleh karena itu, Bapanas mendorong penguatan stok penyangga, baik berupa beras maupun komoditas pangan lokal lainnya sebagai langkah adaptasi yang mutlak dilakukan.
“Fungsi dari cadangan pangan itu adalah menjaga agar ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan ini dapat berkelanjutan dan juga stabil,” ujar Sri.
Sri menekankan, keberadaan cadangan pangan mencerminkan ketangguhan suatu wilayah atas semua potensi disrupsi, utamanya akibat ancaman perubahan iklim ekstrem yang sedang mendera Indonesia maupun secara global.
“Sehingga kalau kita mempunyai cadangan yang kuat, maka ketahanan pangan kita tidak akan mudah diganggu baik oleh gangguan produksi maupun gangguan distribusi,” kata Sri.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjamin stok pangan berupa beras di tengah ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada tahun ini.
Mentan Amran mengatakan stok beras nasional saat ini berada dalam kondisi paling aman sepanjang sejarah Republik Indonesia dengan cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan.
“Stok kita, cadangan di gudang Bulog, di lapangan, itu cukup untuk 10 bulan ke depan. Jika dari Maret ini, maka hingga Desember cukup. Saya ulangi, stok kita hari ini cukup untuk 10 bulan ke depan,” ucap Mentan Amran.















