PravadaNews – Sulit merelakan kepergian orang tercinta menjadi awal petaka bagi Arya dalam film horor Aplikasi Iblis garapan sutradara Dimas Anggara.
Setahun setelah Laras meninggal secara tragis, Arya masih menyimpan kerinduan mendalam terhadap sang kekasih. Kondisi tersebut membuat Arya nekat menggunakan aplikasi misterius bernama I LET YOU IN untuk menghubungi arwah Laras.
Melalui aplikasi itu, Arya akhirnya berhasil kembali berkomunikasi dengan Laras. Namun, pertemuan yang semula mengobati kerinduan justru menjadi awal teror yang mengancam nyawa Arya.
Sang Sutradara, Dimas Anggara, menjelaskan kengerian dalam film ink muncul akibat keputusan Arya yang berusaha menghubungi kekasihnya.
Menurutnya, setiap tindakan memiliki konsekuensi, termasuk ketika seseorang berusaha mempertahankan hubungan dengan orang yang telah meninggal.
“Horornya itu sebenarnya karena sebab akibat dari suatu perbuatan yang dilakukan Arya. Segala sesuatu pasti ada sebab akibat. Apa yang dilakukan Arya, dengan mencoba menghubungi arwah kekasihnya itulah yang kemudian menyebabkan teror,” ujar Dimas dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (17/10/2026).
Selain mengangkat persoalan kehilangan, Dimas memilih lingkungan perkotaan sebagai latar cerita untuk menghadirkan kengerian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teror dalam film tersebut muncul di sejumlah tempat, seperti apartemen, area parkir, maupun perjalanan pulang pada malam hari.
Dimas juga memadukan unsur misteri, aksi, dan drama percintaan untuk menggambarkan perjalanan Arya menghadapi teror. Film produksi NIH Pictures itu menjadi pengalaman pertama Dimas menyutradarai genre horor setelah sebelumnya menggarap film drama #OOTD: Outfit of the Designer.
Sebagai informasi, karakter Arya diperankan Aktor Junior Roberts, sedangkan Laras diperankan oleh Aktris Dosma Hazenbosch. Diketahui, Junior menjalani latihan koreografi aksi hingga mengalami memar saat syuting, sementara Dosma mengubah karakter suaranya untuk membedakan Laras semasa hidup dan setelah menjadi arwah.
Di luar kisah fiksi ini, kehilangan orang tercinta juga dapat menimbulkan kesedihan yang berlangsung berbeda pada setiap individu.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Adelia Khrisna Putri, menuturkan proses berduka tidak memiliki batas waktu pemulihan yang sama.
Adelia menerangkan, pemulihan setelah kehilangan bukan berarti seseorang harus melupakan kenangan bersama orang yang telah meninggal.
“Pulih bukan berarti kembali seperti semula, tetapi pulih menjadi individu yang baru,” ungkap Adelia dalam kegiatan kuliah daring yang diselenggarakan UGM, Jumat (11/9).
Lebih lanjut, Adelia menekankan pentingnya dukungan orang terdekat untuk membantu seseorang menghadapi kesedihan akibat kehilangan. Dukungan tersebut dapat diberikan dengan mendengarkan tanpa menghakimi, sedangka bantuan profesional perlu dipertimbangkan apabila kesedihan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.















