PravadaNews – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia Ahmad Muzani mengambil langkah tegas menyusul polemik penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) yang menjadi sorotan luas masyarakat dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Kontroversi tersebut memicu berbagai reaksi publik, mulai dari kritik, protes peserta, hingga perhatian para netizen yang mempertanyakan proses penilaian dalam ajang yang digelar oleh MPR itu.
Menanggapi polemik yang berkembang, Ahmad Muzani menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memberikan perhatian besar terhadap kegiatan MPR. Ahmad Muzani menilai kritik dan masukan yang disampaikan publik merupakan bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas pelaksanaan kegiatan kebangsaan di masa mendatang.
“Kami semua berterima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang memberi perhatian sangat besar terhadap kegiatan Majelis Permusyawaratan Rakyat ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada para netizen yang menyampaikan pandangan, kritik, dan saran kepada kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada semuanya yang memberikan support dengan cara dan bahasa apapun,” ujar Ahmad Muzani dikutip Jumat (15/5/2026).
Menurut Ahmad Muzani, seluruh kritik yang muncul diterima sebagai pandangan positif demi evaluasi dan perbaikan kegiatan MPR ke depan.
Ahmad Muzani menegaskan, program LCC Empat Pilar harus tetap dilanjutkan karena memiliki tujuan penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda Indonesia.
Ahmad Muzani menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana untuk memastikan para pemimpin muda masa depan memahami dasar negara dan konstitusi Indonesia.
Ahmad Muzani menyebut, pemahaman terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran berbangsa dan bernegara.
“Karena itu kami merasa kegiatan ini harus terus dilanjutkan, karena ini adalah salah satu cara untuk memastikan pemimpin-pemimpin ke depan, anak-anak muda kita harus memahami dengan betul tentang dasar negaranya yang Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Ahmad Muzani.
Meski demikian, Ahmad Muzani mengakui adanya kekurangan dalam pelaksanaan final LCC di Kalimantan Barat. Karena itu, pihaknya memutuskan mengambil sejumlah langkah konkret sebagai bentuk respons atas kontroversi yang terjadi.
Keputusan pertama yang diambil adalah menggelar ulang babak final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat dalam waktu dekat.
Menurut Ahmad Muzani, pelaksanaan ulang tersebut akan diputuskan secepatnya agar seluruh peserta memperoleh kesempatan yang adil dan transparan.
“Kesatu, lomba cerdas cermat di Kalbar yang final akan kita lakukan ulang pada waktu yang akan segera diputuskan secepatnya,” tegasnya.
Langkah kedua, MPR memastikan juri dalam pelaksanaan ulang final LCC nantinya berasal dari unsur independen. Kebijakan ini diambil guna menjaga objektivitas penilaian sekaligus menghindari munculnya polemik serupa di kemudian hari.
“Yang kedua, juri yang menjadi juri dalam lomba cerdas cermat tersebut adalah juri independen,” lanjut Muzani.
Tidak hanya itu, MPR juga akan melakukan pengawasan langsung terhadap jalannya perlombaan dari awal hingga akhir. Langkah tersebut disebut sebagai bentuk keseriusan lembaga dalam menjaga kredibilitas dan integritas kegiatan kebangsaan yang melibatkan pelajar dari berbagai daerah.
“Ketiga, MPR akan mengawasi langsung jalannya lomba tersebut dari awal sampai akhir,” kata Ahmad Muzani.
Dalam kesempatan itu, Muzani turut memberikan apresiasi kepada para peserta lomba yang menyampaikan keberatan dan protes atas hasil penilaian. Ia menilai tindakan tersebut merupakan bagian dari praktik demokrasi yang sehat dan perlu dihargai.
“Keempat, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada peserta lomba yang menggunakan haknya untuk menyampaikan pandangan kebebasan berbicara untuk menyampaikan protes atas ketidakpuasannya sebagai sebuah cara untuk melatih demokrasi yang baik,” ujarnya.
Menurut Muzani, keberanian peserta dalam menyampaikan pandangan secara terbuka menunjukkan bahwa generasi muda mulai memahami pentingnya kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi. Hal tersebut dinilai sejalan dengan semangat pendidikan kebangsaan yang selama ini diusung MPR melalui program Empat Pilar.
Selain itu, MPR juga memastikan akan terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh kegiatan yang diselenggarakan lembaga tersebut. Evaluasi dilakukan dengan mendengarkan berbagai pandangan masyarakat yang berkembang melalui berbagai saluran informasi dan media sosial.
“Dan yang kelima, kami akan terus melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan kegiatan-kegiatan MPR yang hari ini terus kita dengarkan pandangan masyarakat dengan berbagai macam media,” tutupnya.
Seperti diketahui, kontroversi final LCC Empat Pilar Kalimantan Barat sebelumnya ramai menjadi perbincangan publik setelah muncul protes terkait proses penilaian dalam perlombaan tersebut.
Reaksi masyarakat di media sosial terus mengalir hingga akhirnya mendapat respons langsung dari Ketua MPR Ahmad Muzani melalui keputusan evaluasi dan pelaksanaan ulang final lomba.














