PravadaNews – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, negaranya memiliki lebih banyak kejutan yang disiapkan untuk Amerika Serikat jika kembali melakukan agresi.
Diplomat senior tersebut menyampaikan pernyataan ini dalam sebuah unggahan di X pada hari Selasa (19/5/2026).
Araghchi mengatakan, Iran akan melancarkan kejutan-kejutan tersebut kepada para agresor.
Araghchi mengutip pengakuan Kongres AS dalam sebuah laporan baru-baru ini tentang besarnya kerugian material yang ditimbulkan oleh agresi ilegal terbaru Washington terhadap Iran di seluruh angkatan udara Amerika.
Baca Juga: Selat Hormuz Aset Tetap Iran
Menurut laporan tersebut, di tengah pembalasan Iran, angkatan udara kehilangan setidaknya 42 pesawat selama agresi 40 hari tersebut, dengan perkiraan kerugian telah mencapai sekitar 2,6 miliar dolar AS.
Pesawat yang hancur atau rusak termasuk empat pesawat tempur F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, satu A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker, satu pesawat peringatan dan kontrol udara E-3 Sentry, dua pesawat MC-130J Commando II, satu helikopter HH-60W Jolly Green II, 24 drone MQ-9 Reaper, dan satu drone MQ-4C Triton.
Para anggota parlemen Amerika memperingatkan bahwa biaya finansial sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena masih “tidak jelas” apakah Departemen Perang telah sepenuhnya memperhitungkan semua kerugian tempur.
Laporan itu juga mengatakan biaya penggantian jangka panjang pada akhirnya dapat melebihi 7 miliar dolar AS, mencatat bahwa beberapa sistem yang hancur tidak lagi diproduksi dan mungkin memerlukan jalur produksi untuk dihidupkan kembali.
Ditambahkan bahwa hilangnya pesawat E-3 Sentry dapat memaksa departemen untuk menghidupkan kembali program penggantian E-7 Wedgetail yang sebelumnya dibatalkan dengan perkiraan biaya lebih dari $2,5 miliar.
“Beberapa bulan setelah dimulainya perang terhadap Iran, Kongres AS mengakui hilangnya puluhan pesawat senilai miliaran dolar,” tambah Araghchi, merujuk pada laporan tersebut, dikutip Rabu (20/5/2026).
“Angkatan Bersenjata kita yang kuat dikonfirmasi sebagai yang pertama menembak jatuh F-35 yang digembar-gemborkan.”
Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan agresi pada 28 Februari, memicu pembalasan rudal dan drone skala besar Iran terhadap target Israel dan aset militer Amerika di seluruh wilayah tersebut.
Agresi tersebut juga mendorong Iran untuk mulai menerapkan kontrol ketat atas transit melalui Selat Hormuz yang strategis.
Langkah ini telah menimbulkan guncangan di seluruh pasar energi global, termasuk di Amerika Serikat, di mana kenaikan harga energi telah mengikis tingkat popularitas Trump yang sudah sangat rendah.















