Ilustrasi Bank Indonesia (BI) diminta  Perluas Swap Line perkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: PravadaNews) 

Beranda / Ekonomi / BI Diminta Perluas Swap Line Perkuat Rupiah

BI Diminta Perluas Swap Line Perkuat Rupiah

PravadaNews – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi hampir dua pekan ini telah ramai menjadi perbincangan publik. Sejumlah pihak turut mendesak pemerintah dan Bank Indonesia (BI) segera mencari langkah yang strategis mengatasi permasalahan tersebut.

Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan menyarankan pihak pemerintah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui perluasan kerja sama swap line dengan sejumlah bank sentral dunia termasuk dengan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Dalam keterangannya sosok yang akrab disapa Eric itu berpendapat langkah ini menjadi penting untuk memperkuat likuiditas valas di tengah tekanan dolar AS yang masih dominan.

Eric menilai, penguatan rupiah saat ini membutuhkan kombinasi kebijakan domestik dan diplomasi ekonomi yang lebih agresif dari otoritas moneter.

Menurut Eric, BI perlu memperluas pendekatan dengan berbagai bank sentral dunia untuk memperoleh fasilitas swap line yang dapat digunakan secara sementara.

“Saya berharap Bank Indonesia, khususnya Gubernur BI, segera melakukan pendekatan ke bank sentral lain. Tak harus permanen, sementara juga bisa. Kalau punya swap line, BI tidak perlu terus membakar dolar di pasar,” kata Eric, dikutip Rabu (20/5/2026).

Eric menekankan, dominasi dolar AS dalam aktivitas perdagangan Indonesia baik ekspor maupun impor telah membuat kebutuhan terhadap instrumen likuiditas global semakin mendesak.

Okeh karena itu, menurut Eric, kerja sama internasional dinilai tidak bisa lagi bersifat terbatas.

Eric juga menyoroti hubungan Indonesia dengan The Fed yang telah terjalin lama, namun belum dioptimalkan untuk memperoleh fasilitas swap line.

“Sudah bertahun-tahun kita memiliki hubungan dengan Federal Reserve, tetapi belum pernah benar-benar memikirkan bagaimana memperoleh fasilitas swap line tersebut,” kata Eric.

Di sisi lain, Eric juga mendorong BI membentuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mengkaji kembali kebijakan bagi perusahaan ekspor-impor dengan transaksi nilai di atas Rp500 miliar untuk membantu menjadi bantalan devisa negara.

Menurut Eric, langkah tersebut dapat membantu memastikan aliran devisa tidak terus mengalir ke luar negeri.

“Perusahaan ekspor-impor dengan transaksi di atas Rp500 miliar per tahun perlu dikaji untuk listing. Dengan begitu, dananya kembali ke Indonesia, bukan justru parkir di Hong Kong atau Singapura,” ujar Eric.

Eric menegaskan, jika perusahaan tersebut melantai di bursa, maka keseimbangan antara permintaan dan penawaran dolar dapat lebih terjaga sehingga mendukung stabilitas rupiah.

Eric menambahkan, selain itu juga perlu ada poin koordinasi lintas lembaga, termasuk dengan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kemenkeu untuk memastikan devisa hasil ekspor lebih optimal dikonversi dan berputar di dalam negeri.

“Dengan pengaturan yang lebih baik, devisa bisa lebih banyak kembali menjadi rupiah, bukan mengendap di luar negeri,” tutup Eric.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengklaim nilai tukar rupiah ke dolar AS akan segera menguat dalam waktu dua bulan kedepan.

Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa Perry itu meyakinkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada Mei 2026 bersifat sementara.

Perry mengaku optimistis rupiah akan kembali menguat mulai Juli hingga beberapa bulan setelah badai lemahnya nilai tukar pada bulan Mei 2026.

Perry meyakini lemahnya nilai tukar rupiah ke dolar AS saat ini merupakan seiring pola musiman yang berulang setiap tahun.

Pernyataan itu disampaikan Perry dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, pada Senin, (18/5)

Diketahui, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.671 per dolar AS pada bursa perdagangan.

Di hadapan legislator, Perry turut memaparkan bahwa asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 berada di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan rata-rata sekitar Rp16.500.

Sementara itu, rata-rata year to date rupiah disebut sudah berada di atas Rp16.900, atau melampaui asumsi tersebut.

“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni karena permintaan dolar tinggi,” ujar Perry dalam rapat.

Perry menambahkan, tekanan pada periode tersebut bukan hal baru. Menurutnya, pola serupa kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir sebelum rupiah kembali menguat pada semester kedua, khususnya Juli hingga September.

“Kalau Juli, Agustus akan menguat. Itu pola yang berulang,” kata Perry, seraya menyebut volatilitas saat ini masih dalam batas yang dapat dikelola.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *