PravadaNews – Pasokan sawit menghadapi dilema ketika kebutuhan untuk program biodisel dan minyak goreng harus tersedia secara bersamaan.
Tidak hanya itu, sawit juga dibutuhkan untuk ekspor minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Apalagi, biodisel dan minyak goreng membutuhkan bahan baku yang sama yakni CPO.
General Manager Distrik Petani Mitra dan Kepala Divisi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) PTPN IV PalmCo, Abdul Muthalib mengatakan, pemerintah berupaya agar kebutuhan minyak goreng setiap harinya terpenuhi.
Maka dari itu, kata Abdul, pemerintah memberlakukan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 35% bagi eksport minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO).
Baca Juga: Agrinas Palma Lakukan Pengembangan Komoditas Strategis untuk Ketahanan Pangan
“Pemerintah memberikan batasan, kita harus pemenuhan DMO atau lokal, jadi jangan khawatir ibu-ibu tidak akan kesulitan membeli minyak goreng,” kata Abdul dalam Indolivestock 2026 Expo & Forum, dikutip Jumat (19/6/2026).
Abdul menjelaskan, ketersediaan minyak goreng juga dilihat dari produktivitas kebun sawit. PTPN IV, kata Abdul, mutu panen, bibit, dan perawatan kebun menentukan kualitas Tanda Buah Segara (TBS).
Sementara itu, Direktur Bisnis PT Agrinas Palma Nusantara, Nurhidayat mengatakan bahwa PT Agrinas mendapatkan penugasan untuk mendorong swasembada pangan dan energi.
“Harapannya dalam pelaksanaan program ini, penugasan kepada Agrinas Palma Nusantara memberikan kontribusi strategis nasional, ekonomi, dan sosial,” kata Nurhidayat kepada PravadaNews, dikutip Jumat (19/6/2026).















