PravadaNews – Ketersediaan tenaga dokter di tingkat desa di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, masih menjadi tantangan serius dalam upaya pemerataan layanan kesehatan.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Rabu (24/6/2026), hanya 1,35 persen desa di Yahukimo yang memiliki dokter, mencerminkan masih terbatasnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang memadai di salah satu daerah berstatus sangat tertinggal di Indonesia.
Minimnya keberadaan dokter tersebut menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas mengenai kondisi pembangunan manusia dan layanan dasar di Yahukimo. Kabupaten yang berada di wilayah pegunungan Papua ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari akses pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga keterhubungan digital.
Di sektor kesehatan, selain rendahnya persentase desa yang memiliki dokter, hanya 25,1 persen desa yang memiliki fasilitas kesehatan (faskes).
Baca juga: Pendidikan dan Kesehatan Jadi Tantangan di Pegunungan Bintang
Meski demikian, sebanyak 47,68 persen desa tercatat relatif mudah mencapai fasilitas kesehatan, menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih harus bergantung pada layanan kesehatan yang berada di luar wilayah desanya.
Kondisi kesehatan masyarakat juga tercermin dari rendahnya cakupan imunisasi. Data menunjukkan hanya 13,54 persen balita yang mendapatkan imunisasi lengkap, angka yang mengindikasikan masih besarnya pekerjaan rumah dalam meningkatkan perlindungan kesehatan anak sejak usia dini.
Tantangan lainnya terlihat pada layanan kesehatan ibu dan anak. Hanya 25,45 persen wanita usia 15–49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir dengan bantuan tenaga penolong persalinan yang memadai.
Rendahnya angka tersebut berpotensi meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu maupun bayi, terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.
Tidak hanya kesehatan, sektor pendidikan di Yahukimo juga menghadapi berbagai kendala. Tingkat partisipasi pendidikan jenjang SMP tercatat sebesar 57,55 persen, sementara partisipasi SMA jauh lebih rendah, yakni hanya 17,24 persen.
Ketersediaan sarana pendidikan di tingkat desa juga masih terbatas. Hanya 29,15 persen desa yang memiliki sekolah dasar (SD) dan 6,37 persen desa yang memiliki sekolah menengah pertama (SMP). Kondisi ini berdampak pada akses pendidikan masyarakat, terutama bagi anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil.
Data juga menunjukkan hanya 24,71 persen desa yang memiliki kemudahan akses menuju SMP, yang berarti sebagian besar siswa harus menempuh perjalanan yang cukup sulit untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hal itu disebabkan, keterbatasan sarana dan akses pendidikan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat partisipasi sekolah menengah di wilayah tersebut.
Tak hanya itu, di bidang infrastruktur, tantangan yang dihadapi Yahukimo juga cukup besar. Hanya 22,71 persen rumah tangga yang menggunakan listrik, sementara rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih baru mencapai 11,22 persen.
Akses telekomunikasi juga masih terbatas. Persentase rumah tangga pengguna telepon tercatat sebesar 27,19 persen, sedangkan penduduk yang menggunakan internet hanya 4,69 persen. Angka ini menunjukkan bahwa transformasi digital masih belum menjangkau sebagian besar masyarakat Yahukimo.
Keterbatasan infrastruktur jalan menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai layanan. Data menunjukkan hanya 2,32 persen desa yang memiliki jalan utama dengan permukaan aspal. Kondisi geografis yang berat dan medan pegunungan menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan jaringan transportasi di wilayah tersebut.
Kalau dilihat dari sisi ekonomi, penduduk yang bekerja di sektor non-pertanian hanya mencapai 4,08 persen, menandakan bahwa sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian dan kegiatan ekonomi tradisional.
Sementara itu, porsi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non-makanan tercatat sebesar 31,51 persen. Angka ini sering digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat, karena semakin tinggi proporsi pengeluaran non-makanan umumnya menunjukkan kemampuan ekonomi yang lebih baik.
Namun, dengan berbagai keterbatasan akses layanan dasar dan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan masyarakat Yahukimo masih memerlukan dukungan pembangunan yang berkelanjutan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, kondisi sosial di Yahukimo tergolong relatif kondusif. Sebanyak 92,47 persen desa tercatat tidak mengalami bencana.
Stabilitas sosial tersebut dinilai menjadi modal penting bagi pemerintah dalam mempercepat pembangunan di wilayah yang berstatus sangat tertinggal tersebut.
Dengan situasi yang relatif aman dan kondusif, berbagai program pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan ekonomi diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Untuk itu, perlu percepatan pembangunan layanan dasar di Yahukimo. Dengan rendahnya persentase desa yang memiliki dokter, yakni hanya 1,35 persen, menjadi salah satu indikator yang menunjukkan masih besarnya kesenjangan layanan dasar di Yahukimo. Kondisi ini menggambarkan bahwa masyarakat di banyak desa masih menghadapi keterbatasan akses terhadap tenaga kesehatan profesional.
Pemerintah pusat maupun daerah diharapkan dapat memperkuat kebijakan pemerataan tenaga kesehatan, pembangunan fasilitas kesehatan, peningkatan akses pendidikan, serta penyediaan infrastruktur dasar agar kualitas hidup masyarakat Yahukimo dapat terus meningkat.
Dengan berbagai indikator yang masih berada pada level rendah, Yahukimo menjadi contoh nyata pembangunan di daerah terpencil membutuhkan perhatian khusus, investasi jangka panjang, dan kolaborasi lintas sektor agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata hingga ke pelosok desa.















