PravadaNews – China mendorong pemulihan navigasi Selat Hormuz melalui agenda stabilitas rantai pasok global. Sikap tersebut muncul setelah Iran dan Amerika Serikat memasuki tahap diplomasi baru melalui nota kesepahaman.
Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi menempatkan gencatan senjata sebagai syarat utama agar perang tidak kembali memanas. Beijing melihat Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang berkaitan langsung dengan pasokan industri dan perdagangan dunia.
“Navigasi normal melalui Selat Hormuz harus dipulihkan sesegera mungkin untuk memastikan stabilitas rantai industri dan pasokan global,” kata Wang Yi, melansir kantor berita China Xinhua, dikutip Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: Iran Tak Akan Beri Akses ke Fasilitas Nuklir
Wang menyampaikan sikap itu dalam percakapan telepon dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar. China juga berterima kasih kepada Pakistan karena memberi informasi cepat mengenai tahap baru negosiasi Iran dan Amerika Serikat.
Dalam pembicaraan itu, Beijing menilai nota kesepahaman Iran dan Amerika Serikat lahir dari dorongan bersama komunitas internasional. Wang menyebut Pakistan memainkan peran penting dan khas dalam menjaga ruang diplomasi setelah perang terbaru.
“Timur Tengah, termasuk kawasan Teluk, seharusnya tidak lagi menjadi arena persaingan kekuatan besar atau korban geopolitik,” kata Wang Yi.
Diplomasi China kemudian diarahkan pada tiga prioritas, yaitu menjaga penghentian perang, memulihkan navigasi Hormuz, dan membangun arsitektur keamanan regional. Beijing juga menilai isu Palestina tetap menjadi inti persoalan Timur Tengah yang membutuhkan suara kawasan secara lebih bersatu.
Sementara itu, posisi Iran memberi konteks baru terhadap seruan China karena tata kelola Hormuz ikut berubah setelah perang. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Selat Hormuz akan dikelola Iran dengan tetap merujuk hukum internasional.
“Semua orang harus tahu bahwa pengelolaan Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang,” kata Ghalibaf, melansir kantor berita IRNA.
Ghalibaf juga menempatkan babak baru kawasan dalam kerangka persatuan negara Islam setelah perang terbaru. Dalam pertemuan dengan pihak Republik Azerbaijan, Iran menekankan penguatan hubungan parlemen dan dukungan terhadap Konferensi Persatuan Serikat Parlemen Organisasi Kerja Sama Islam atau Parliamentary Unions of the Organization of Islamic Cooperation (PUIC).
Seperti diketahui, China memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas Selat Hormuz karena jalur itu menjadi pintu penting bagi arus energi dan perdagangan dari kawasan Teluk. Karena itu, dorongan Beijing terhadap pemulihan navigasi tidak hanya menyangkut keamanan pelayaran, tetapi juga bagian dari upaya menjaga rantai pasok global dan menekan risiko geopolitik di Timur Tengah.















