Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. (Foto: Tangkapan Layar YouTube Universitas Paramadina)

Beranda / Ekonomi / Pabrik Otomotif Relokasi: Investor Cut Loss?

Pabrik Otomotif Relokasi: Investor Cut Loss?

PravadaNews – Kabar relokasi pabrik komponen otomotif Jepang ke Vietnam menjadi tanda-tanda sikap cut loss para investor asing. Hal ini pun menjadi sorotan dalam industri manufaktur di Indoneia.

Keputusan investor untuk bertahan tidak hanya bergantung pada insentif, tapi juga pada kepastian kebijakan industri.

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, keputusan investasi tidak cukup ditopang oleh kondisi ekonomi.

Kepercayaan investor menjadi faktor penting ketika perusahaan global menghitung risiko produksi dan kelanjutan usahanya ke depan.

Menurutnya, Indonesia sedang menghadapi defisit kepercayaan ketika informasi mengenai kondisi ekonomi terbatas.

“Saya cukup intens berbicara tertutup dengan pimpinan multinational company dan pimpinan perusahaan asing dari regional office. Kesimpulan saya, mereka sekarang sudah bukan wait and see, tetapi attitude-nya mulai masuk ke posisi cut loss,” tutur Wijayanto kepada PravadaNews, Kamis (25/6/2026).

Dalam industri manufaktur, cut loss dapat muncul ketika investor menilai kegiatan produksi tidak lagi memberi kepastian usaha. Keputusan itu bisa terlihat melalui penundaan ekspansi, pengurangan kapasitas, atau pemindahan produksi ke negara lain.

“Jadi investasi yang dia lihat rugi, investasi yang berpotensi merugikan, itu dia akan cut, akan dihentikan. Mending pindah ke tempat lain,” lanjut Wijayanto.

Wijayanto menyebut, kabar dua perusahaan otomotif Jepang perlu dibaca sebagai bagian dari evaluasi iklim investasi. Indonesia tidak hanya perlu menarik modal baru, tapi juga menjaga investasi lama agar tetap bertahan.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menindaklanjuti kabar relokasi perusahaan komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, hasil penelusuran sementara menunjukkan PT JAI dan PT SAI masih menjalankan kegiatan produksi seperti biasa.

Lebih lanjut, Kemenperin juga menyatakan tidak ada pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) pada dua perusahaan itu.

“Belum ada rencana relokasi fasilitas produksi PT JAI dan PT SAI dari Indonesia ke Vietnam,” kata Febri dalam keterangan resminya, Selasa (23/6) lalu.

Meski begitu, Kemenperin mengakui kabar relokasi dan PHK telah berdampak terhadap produksi serta permintaan kedua perusahaan. Buyer dan supplier ikut mempertanyakan komitmen kontrak, sementara total investasi kedua perusahaan di Indonesia tercatat lebih dari Rp1,9 triliun.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *