Illustrasi kapal tanker minyak. (Foto: dok. Shutterstock)

Beranda / Ekonomi / Penurunan Harga Minyak Brent Jadi Ruang Napas APBN

Penurunan Harga Minyak Brent Jadi Ruang Napas APBN

PravadaNews – Ketika harga energi dijaga tetap terjangkau bagi masyarakat, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ikut menanggung tekanan dari gejolak minyak dunia.

Tekanan itu mendapat sedikit ruang setelah harga minyak Brent kontrak Agustus 2026 turun 4,34% ke level USD71,99 per barel pada Jumat (26/6/2026).

Pelemahan terjadi saat arus tanker melalui Selat Hormuz mulai bergerak lebih lancar setelah sebelumnya dibayangi konflik Timur Tengah.

Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur itu berpengaruh terhadap pasokan minyak global. Saat risiko gangguan pengiriman meningkat, harga minyak biasanya ikut terdorong oleh kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan.

Bagi Indonesia, penurunan Brent belum langsung mengurangi beban subsidi energi. Dampaknya terhadap APBN baru akan terlihat jika pergerakan itu ikut menekan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).

Data APBN KiTa Juni 2026 menunjukkan subsidi dan kompensasi telah mencapai Rp203,7 triliun hingga 31 Mei 2026. Realisasi itu setara 45,6% dari pagu APBN, dengan sebagian pembayaran kompensasi tahun ini dilakukan secara bulanan.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut, subsidi dan kompensasi menjadi bagian dari peran APBN untuk meredam gejolak harga energi.

“APBN berperan sebagai shock absorber di tengah volatilitas harga energi global,” tulis Kemenkeu dalam paparan APBN KiTa Juni 2026, Jumat (5/6).

Karena itu, turunnya Brent lebih tepat dibaca sebagai jeda tekanan bagi APBN, bukan penyelesaian penuh atas beban subsidi energi. Harga minyak yang lebih rendah dapat membantu ruang fiskal, tapi pengaruhnya tetap bergantung pada arah ICP, kurs, dan konsumsi energi bersubsidi.

Di sisi lain, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini menilai, koreksi harga Brent menunjukkan tekanan eksternal mulai mereda.

“Ada berita baik harga minyak Brent terus menurun, harga minyak Brent ini menyentuh level terendah dalam dua bulan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai,” ujar Didik kepada PravadaNews, dikutip Minggu (28/6).

Dalam penjelasannya, gangguan pasar minyak sejak awal tahun berkaitan dengan ketidakpastian konflik Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap Selat Hormuz sebelumnya membuat pelaku pasar menilai arus pasokan minyak belum sepenuhnya aman.

Meredanya risiko eksternal tersebut ikut memberi sentimen lebih baik terhadap ekonomi domestik. Kondisi itu, jelas Didik, dapat membantu nilai tukar rupiah dan pasar saham apabila pasar melihat risiko energi terus menurun.

Meski demikian, ruang yang muncul dari pelemahan Brent tetap perlu dijaga melalui disiplin fiskal. Kepercayaan pasar akan lebih ditentukan oleh konsistensi kebijakan, hingga komunikasi pemerintah dalam menjaga APBN.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *