Layanan pers Kementerian Luar Negeri Rusia. (Foto: Dok. TASS)

Beranda / Mancanegara / Rusia Ragukan Komitmen Barat dalam Perdamaian Ukraina

Rusia Ragukan Komitmen Barat dalam Perdamaian Ukraina

PravdaNews – Kesediaan Barat untuk kembali mendorong negosiasi Ukraina mendapat keraguan, setelah Rusia menyatakan tidak mempercayai komitmen perundingan dan adanya bantuan keterlibatan atas konflik tanpa memperdulikan nyawa yang hilang.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut sejumlah proses diplomasi sebelumnya menjadi dasar keraguan Moskow terhadap pendekatan negosiasi dari negara Barat. Lavrov menyampaikan pembahasan solusi melalui perundingan pernah berlangsung pada 2014, 2015, dan 2019, tetapi hasilnya tidak menghasilkan penyelesaian konflik.

Menteri Luar Negeri Rusia tersebut menyampaikan Rusia menilai jaminan politik yang diberikan Barat dalam proses sebelumnya tidak berjalan sesuai kesepakatan.

“Barat terus menyerukan solusi melalui negosiasi dengan cara yang munafik, karena solusi melalui negosiasi telah tercapai pada tahun 2014, 2015, dan 2019, namun seluruh jaminan yang diberikan kemudian dibantah oleh Barat sendiri,” kata Lavrov di Maputo melansir Kantor Berita TASS, dikutip Jumat (10/7/2026).

Adapun Lavrov turut membahas proses perundingan Rusia dan Ukraina pada 2022 yang sempat berlangsung untuk mencari penyelesaian politik. Dimana keterlibatan Barat dalam proses tersebut menyebabkan kesepakatan yang dibahas tidak berlanjut.

Lebih lanjut, Lavrov menyatakan Rusia tidak lagi mempercayai kesediaan Barat dalam mencari solusi melalui jalur negosiasi terkait konflik Ukraina.

“Selain itu, terdapat solusi yang dinegosiasikan antara Rusia dan Ukraina pada tahun 2022, tetapi Barat secara terbuka dan terang-terangan merusaknya sehingga cadangan itikad baik dan harapan untuk solusi tersebut benar-benar telah habis,” ujar Lavrov.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Perwakilan Tetap Rusia untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Anna Yevstigneyeva menyoroti dukungan Barat terhadap Ukraina melalui kebijakan keamanan selama konflik berlangsung. Dalam bentuk bantuan militer, amunisi, informasi intelijen, pelatihan militer, serta dukungan logistik menjadi bentuk keterlibatan negara Barat.

Selanjutnya, Yevstigneyeva mengkritik kebijakan Barat yang tetap memberikan dukungan kepada Ukraina di tengah pembahasan mengenai penyelesaian konflik.

“Kematian warga sipil yang tidak bersalah, pembunuhan perempuan, anak-anak, dan orang tua tidak akan menghentikan mereka karena mereka tidak peduli berapa banyak orang yang kehilangan nyawa di Rusia dan Ukraina,” kata Yevstigneyeva.

Lebih lanjut, perwakilan Rusia untuk PBB tersebut menyebut keterlibatan Barat tidak hanya melalui bantuan militer, tetapi juga dukungan politik dalam konflik Ukraina. Yevstigneyeva menilai kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi negara Barat dalam memberikan tekanan terhadap Rusia melalui dukungan kepada Ukraina.

Seperti diketahui, perkembangan konflik Ukraina memperlihatkan perbedaan pandangan antara Rusia dan negara Barat mengenai jalur penyelesaian melalui negosiasi. Perbedaan sikap tersebut menjadi bagian dari dinamika diplomasi internasional dalam proses pencarian penyelesaian konflik Ukraina.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *