PravadaNews – Sekitar 14 ribu hingga 15 ribu kasus baru kusta ditemukan setiap tahun di Indonesia, tapi jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar karena gejala awalnya kerap tidak disadari.
Gejala yang berkembang perlahan membuat perubahan pada kulit dapat dibiarkan dalam waktu lama hingga infeksi mulai mengganggu saraf dan fungsi anggota tubuh.
Alodokter menjelaskan, kusta atau lepra disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang terutama menyerang kulit dan saraf tepi.
“Gejala kusta biasanya berkembang secara bertahap dan pada awalnya tidak begitu jelas,” tulis Alodokter dalam laman resminya, Sabtu (11/7/2026).
Tanda yang perlu diperhatikan seperti bercak kulit lebih pucat atau kemerahan yang kehilangan kemampuan merasakan sentuhan, suhu, tekanan, maupun nyeri.
Berkurangnya rasa pada kulit membuat penderita tidak menyadari luka hingga panas, meskipun saraf di tangan maupun kaki mulai mengalami gangguan.
Kerusakan saraf juga dapat membuat kulit mengering dan sulit berkeringat, kemudian diikuti kelemahan otot ataupun luka telapak kaki tanpa rasa sakit.
Pemeriksaan diperlukan ketika bercak mati rasa tidak kunjung menghilang, terutama apabila keluhan disertai kelemahan anggota gerak serta pembesaran saraf.
Diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat Indonesia bersama Brasil dan India masih melaporkan lebih dari 10 ribu kasus baru pada 2024.
Adapun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai tantangan utama pengendalian kusta bukan terletak pada ketersediaan obat, melainkan banyaknya penderita yang belum berhasil ditemukan.
“Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya, begitu ditemukan langsung diberikan pengobatan. Sekali mulai minum obat, pasien sudah tidak lagi menularkan penyakit,” tutur Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Jumat (10/7).
Karena itu, penemuan kasus secara aktif diperkuat melalui puskesmas agar masyarakat dapat diperiksa sebelum kerusakan saraf berkembang menjadi kecacatan permanen.
“Kusta tidak perlu ditakuti, begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin,” ucap pejabat lulusan ITB itu.
Dalam hal ini, pasien yang terdiagnosis dapat memperoleh terapi multiobat atau multidrug therapy (MDT) secara gratis di fasilitas kesehatan agar infeksi dihentikan sebelum meninggalkan kecacatan.
PravadaNews – Sekitar 14 ribu hingga 15 ribu kasus baru kusta ditemukan setiap tahun di Indonesia, tapi jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar karena gejala awalnya kerap tidak disadari.
Gejala yang berkembang perlahan membuat perubahan pada kulit dapat dibiarkan dalam waktu lama hingga infeksi mulai mengganggu saraf dan fungsi anggota tubuh.
Alodokter menjelaskan, kusta atau lepra disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang terutama menyerang kulit dan saraf tepi.
“Gejala kusta biasanya berkembang secara bertahap dan pada awalnya tidak begitu jelas,” tulis Alodokter dalam laman resminya, Sabtu (11/7/2026).
Tanda yang perlu diperhatikan seperti bercak kulit lebih pucat atau kemerahan yang kehilangan kemampuan merasakan sentuhan, suhu, tekanan, maupun nyeri.
Berkurangnya rasa pada kulit membuat penderita tidak menyadari luka hingga panas, meskipun saraf di tangan maupun kaki mulai mengalami gangguan.
Kerusakan saraf juga dapat membuat kulit mengering dan sulit berkeringat, kemudian diikuti kelemahan otot ataupun luka telapak kaki tanpa rasa sakit.
Pemeriksaan diperlukan ketika bercak mati rasa tidak kunjung menghilang, terutama apabila keluhan disertai kelemahan anggota gerak serta pembesaran saraf.
Diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat Indonesia bersama Brasil dan India masih melaporkan lebih dari 10 ribu kasus baru pada 2024.
Adapun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai tantangan utama pengendalian kusta bukan terletak pada ketersediaan obat, melainkan banyaknya penderita yang belum berhasil ditemukan.
“Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya, begitu ditemukan langsung diberikan pengobatan. Sekali mulai minum obat, pasien sudah tidak lagi menularkan penyakit,” tutur Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Jumat (10/7).
Karena itu, penemuan kasus secara aktif diperkuat melalui puskesmas agar masyarakat dapat diperiksa sebelum kerusakan saraf berkembang menjadi kecacatan permanen.
“Kusta tidak perlu ditakuti, begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin,” ucap pejabat lulusan ITB itu.
Dalam hal ini, pasien yang terdiagnosis dapat memperoleh terapi multiobat atau multidrug therapy (MDT) secara gratis di fasilitas kesehatan agar infeksi dihentikan sebelum meninggalkan kecacatan.















