PravadaNews – Saat ini peritel belum leluasa menaikkan harga ketika konsumen semakin memilih produk murah. Di sisi lain, biaya pembelian barang dari pemasok terus bertambah.
Tekanan itu terlihat dalam laporan tahunan PT Midi Utama Indonesia Tbk (Alfamidi) yang menempatkan pelemahan daya beli sebagai tantangan usaha sepanjang 2025. Persaingan ritel juga menuntut perusahaan mempertahankan harga kompetitif di seluruh jaringan gerainya.
Diketahui, pendapatan neto Alfamidi meningkat dari Rp19,89 triliun pada 2024 menjadi Rp20,64 triliun pada tahun lalu. Namun, beban pokok pendapatan bertambah lebih cepat dibandingkan penjualan perusahaan.
“Daya beli masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi Perseroan sepanjang tahun 2025,” tulis Alfamidi dalam laporan tahunan dan keberlanjutannya, dikutip Selasa (14/7/2026).
Beban pokok pendapatan meningkat sekitar 4%, sedangkan laba bruto tumbuh sekitar 3%. Selisih tersebut menunjukkan pertumbuhan penjualan belum sepenuhnya mengimbangi kenaikan biaya barang yang ditanggung perusahaan.
Dalam kondisi ini, pengendalian biaya dan persediaan menjadi penting untuk menjaga harga tetap bersaing. Barang yang lambat terjual dapat menambah biaya penyimpanan sekaligus menghambat perputaran kas.
Pemilihan persediaan juga semakin ketat ketika konsumen beralih menuju produk berharga lebih rendah. Pemasok produk yang lebih mahal berisiko menerima pesanan lebih sedikit apabila permintaan di gerai melemah.
Sementara itu, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Andry Satrio Nugroho menilai, tekanan tersebut bermula dari produksi.
“Industri telah menghadapi kenaikan biaya input sehingga harga bahan baku menjadi semakin mahal,” ungkap Andry, Minggu (14/6).
Kenaikan harga bahan baku, jelasnya, dapat menambah biaya produksi sebelum memengaruhi harga barang yang ditawarkan pemasok kepada peritel. Pelemahan rupiah memperbesar tekanan bagi industri yang masih menggunakan bahan baku impor.
Pada saat bersamaan, konsumen tetap membeli kebutuhan, tetapi semakin mengutamakan produk dengan harga murah. Perubahan pilihan konsumen membuat peritel sulit meneruskan seluruh kenaikan biaya ke harga jual.
Ekonom itu juga mencatat hampir seluruh kelompok penjualan ritel melemah pada Mei. Situasi ini membuat peritel lebih selektif menentukan persediaan, sementara pemasok menghadapi risiko penurunan pesanan.
Lebih lanjut, kenaikan yang belum diteruskan kepada konsumen dapat mengurangi ruang keuntungan peritel ataupun pemasok. Namun, harga tidak dapat terus ditahan apabila biaya produksi dan distribusi tetap tinggi.
“Peningkatan biaya ini pada akhirnya akan diteruskan atau di-pass through kepada konsumen,” tegas Andry.
Maka dari itu, pemerintah perlu menjaga daya beli sekaligus mengurangi tekanan biaya kredit, hingga energi bagi industri. Kebijakan tersebut diperlukan agar kenaikan biaya tidak terus berpindah dari pemasok kepada peritel sebelum akhirnya dibebankan kepada konsumen.















