Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Dok. Kementerian Keuangan)

Beranda / Ekonomi / Rating BBB Topang Daya Tarik Modal Asing

Rating BBB Topang Daya Tarik Modal Asing

PravadaNews – Arus modal asing yang sempat meninggalkan Indonesia pada awal tahun mulai kembali sebelum Standard & Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat BBB di tengah ketidakpastian pasar global.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat modal asing berbalik dari arus keluar bersih US$0,8 miliar pada triwulan I menjadi arus masuk bersih US$3,9 miliar hingga 15 Juni 2026.

Pergerakan tersebut kemudian mendapat penopang baru setelah S&P pada 13 Juli mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia di BBB dan jangka pendek A-2 dengan outlook stabil. Peringkat itu membuat Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi atau investment grade.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, afirmasi S&P menunjukkan arah kebijakan ekonomi Indonesia masih dipercaya di tengah ketidakpastian global.

“Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, penguatan penerimaan dan kualitas belanja tetap diperlukan untuk menjaga kondisi fiskal sekaligus mengendalikan risiko pembiayaan pemerintah.

“Pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan,” lanjut bendahara negara itu.

Minat investor terhadap instrumen domestik sebelumnya juga terlihat dari kepemilikan nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Nilainya mencapai Rp238,09 triliun atau 23,32% dari total SRBI beredar.

Meski demikian, bertahannya modal asing tidak hanya bergantung pada status layak investasi. Economic Research Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), Ahmad Nasrudin menilai, kondisi fiskal dan stabilitas rupiah tetap menjadi pertimbangan pasar dalam menentukan premi risiko.

“Pasar tidak akan menurunkan premi risiko hanya karena target defisit terlihat aman. Pasar membutuhkan bukti bahwa penerimaan membaik, pembiayaan terkendali, rupiah stabil, dan risiko peringkat tidak meningkat,” tulis Ahmad dalam analisis Safe Deficit Risk Premium Not: Testing 2027 Fiscal Sustainability, yang diterjemahkan redaksi dalam bahasa Indonesia, Minggu (19/7).

Dalam analisisnya, pasar disebut masih membutuhkan bukti perbaikan penerimaan, pembiayaan terkendali, stabilitas rupiah, dan risiko peringkat yang tidak meningkat.

Penilaian itu menunjukkan status layak investasi bukan satu-satunya pertimbangan bagi pemilik modal untuk mempertahankan dananya di pasar domestik. Konsistensi fiskal turut menentukan apakah arus modal yang kembali masuk mampu bertahan ketika risiko global kembali meningkat.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *