PravadaNews – Keinginan anak muda untuk cepat dikenal melalui media sosial dinilai Dokter dan penulis, Gia Pratama Putra belum cukup tanpa bekal ilmu yang kuat.
Pria yang juga dikenal sebagai Influencer Kesehatan itu mengingatkan, keberanian tampil baru bernilai ketika seseorang memahami persoalan yang hendak disampaikan kepada publik.
“Kalau ingin menjadi kreatif, tetap butuh dasar ilmu pengetahuan. Tambah terus ilmunya, lalu kemas dalam bentuk cerita yang bisa disampaikan dengan cara yang sesuai,” ujar Gia, dikutip Senin (3/8/2026).
Dirinya mencontohkan penanganan seorang anak yang menelan koin untuk menunjukkan sebuah keputusan tidak dapat mengandalkan keberanian semata. Pemahaman mengenai tubuh membantunya mengetahui letak benda tersebut dan menentukan tindakan yang diperlukan.
Setelah koin berhasil dikeluarkan, pengalaman medis tersebut kemudian disampaikan melalui cerita yang mudah dipahami masyarakat. Menurutnya, ilmu membantu seseorang menemukan jawaban, sedangkan cerita membuat orang lain memedulikan pesan tersebut.
Bekal pengetahuan juga menentukan kepercayaan terhadap seseorang ketika menyampaikan gagasan di ruang publik. Kredibilitas, jelas Gia, sulit bertahan apabila hanya dibangun melalui citra yang berbeda dari karakter sebenarnya.
Tujuan yang jelas kemudian menjaga kegiatan kreatif agar tidak sekadar mengejar perhatian. Gia menggunakan jadwal harian untuk menilai apakah kegiatan yang dipilih mendekatkannya pada sasaran hidup.
Keberanian memulai juga datang dari pengalaman Dokter, Ikhsanuddin Qoth’i, yang sebelumnya tidak merencanakan aktivitas sebagai kreator konten kesehatan. Respons masyarakat membuatnya melihat media sosial sebagai ruang baru untuk menyampaikan pengetahuan.
“Menurut saya, lebih baik kita mulai terlebih dahulu. Kesempurnaan bisa dibangun setelahnya,” cerita Ikhsan dalam kesempatan yang sama.
Memulai, dalam pandangannya, bukan berarti tampil tanpa persiapan, melainkan menggunakan kemampuan yang sudah dimiliki sambil memperbaiki kekurangannya. Cara ini membuat seseorang tidak terus menunggu keadaan sempurna yang belum tentu datang.
Modal untuk berkembang juga tidak selalu berupa dukungan ekonomi. Ikhsan menilai, pengalaman belajar dan akses yang tersedia dapat diolah menjadi kemampuan yang berguna bagi masyarakat.
Bagi Gia dan Ikhsan, keberanian memang dapat membuka kesempatan, tapi ilmu menjaga karya tetap berisi. Anak muda tidak perlu menunggu sempurna selama proses memulai terus diikuti kemauan belajar.















