Ilustrasi telur rebus. (Foto: AI)

Beranda / Kesehatan / Bahaya! Terlalu Banyak Makan Telur

Bahaya! Terlalu Banyak Makan Telur

PravadaNews – Telur kerap menjadi pilihan menu andalan di meja makan. Harganya terjangkau, mudah diolah menjadi beragam hidangan, serta dikenal sebagai salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan vitamin dan mineral.

Tak heran jika banyak orang menjadikan telur sebagai lauk harian, bahkan mengonsumsinya lebih dari sekali dalam sehari demi memenuhi kebutuhan gizi.

Di balik segudang manfaatnya, muncul satu pertanyaan yang hingga kini masih sering memicu perdebatan, apakah terlalu banyak makan telur benar-benar berbahaya bagi kesehatan?

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, telur kerap dikaitkan dengan kandungan kolesterol yang dinilai dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan telur tetap menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah yang tepat.

Perbedaan pandangan inilah yang membuat banyak orang bingung menentukan batas aman konsumsi telur setiap hari. Karena itu, memahami dampak kebanyakan makan telur, mengenali risiko yang mungkin muncul, serta mengetahui jumlah konsumsi yang sesuai menjadi langkah penting agar manfaat telur tetap dapat diperoleh tanpa mengorbankan kesehatan tubuh.

Berikut ini adalah beberapa dampak yang bisa terjadi jika Anda kebanyakan makan telur. Kebanyakan makan telur dapat memengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh. Telur, terutama bagian kuningnya, mengandung sekitar 185–200 mg kolesterol per butir. Jika dikonsumsi secara berlebihan, misalnya lebih dari 3–4 butir per hari, kadar kolesterol LDL atau “jahat” dalam darah bisa meningkat.

LDL yang tinggi berpotensi menumpuk di dinding arteri, membentuk plak, dan menghambat aliran darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Kebanyakan makan telur ternyata juga bisa memberatkan kerja sistem pencernaan lho. Hal ini karena protein dan lemak dalam telur membutuhkan waktu lebih lama untuk diurai oleh tubuh, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau tanpa disertai makanan berserat. Akibatnya, proses pencernaan jadi lebih lambat dan bisa menimbulkan keluhan seperti kembung, begah, hingga nyeri perut.

Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat memicu asam lambung naik atau diare, terutama jika tubuhnya sensitif terhadap protein telur atau memiliki riwayat gangguan lambung.

Munculnya reaksi alergi juga menjadi salah satu dampak kebanyakan makan telur, terutama pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap protein di dalam putih telur.

Saat tubuh menganggap protein ini sebagai zat asing, sistem kekebalan akan bereaksi berlebihan dengan melepaskan histamin yang memicu berbagai gejala alergi, seperti gatal-gatal pada kulit, ruam merah, bentol, batuk, hingga sesak napas.

Selain itu, bagi orang yang sebelumnya tidak alergi, kebanyakan makan telur dalam jangka panjang bisa memicu sensitisasi, yaitu kondisi di mana tubuh mulai mengenali protein telur sebagai alergen baru. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan jumlah konsumsi telur ya.

Telur memang sering menjadi salah satu menu diet. Namun, jika Anda kebanyakan makan telur, kenaikan berat badan juga bisa terjadi lho. Terlebih lagi, jika hal ini tidak diimbangi dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.

Meskipun telur dikenal sebagai sumber protein yang membantu membangun otot dan membuat kenyang lebih lama, jumlah kalori di dalamnya tetap harus diperhatikan.

Satu butir telur ukuran sedang mengandung sekitar 70 kalori. Jika seseorang mengonsumsi 4–5 butir setiap hari, asupan kalori bisa meningkat cukup signifikan lho. Nah, kalori berlebih yang tidak dibakar oleh tubuh ini akan disimpan dalam bentuk lemak, sehingga berat badan perlahan naik.

Selain itu, kebanyakan makan telur tanpa variasi makanan lain membuat asupan serat berkurang. Akibatnya, metabolisme melambat dan pencernaan jadi kurang lancar. Nah, hal ini juga bisa memicu peningkatan berat badan.

Telur kaya akan protein. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan, telur bisa memberikan beban tambahan pada ginjal. Saat tubuh mencerna protein, hasil akhirnya akan menghasilkan zat sisa seperti urea dan kreatinin yang harus dibuang melalui ginjal.

Jika seseorang terlalu banyak makan telur, ginjal akan bekerja lebih keras untuk menyaring dan membuang sisa metabolisme tersebut. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal, terutama pada orang yang sudah memiliki riwayat penyakit ginjal atau tekanan darah tinggi.

Dalam jangka panjang, kebanyakan makan telur tanpa diimbangi asupan air yang cukup dan pola makan seimbang bisa menyebabkan penurunan fungsi filtrasi ginjal dan menumpuknya racun dalam darah. Jika ini terjadi, Anda bisa mengalami gejala berupa seperti lemas, bengkak, dan perubahan frekuensi buang air kecil.

Salah satu dampak kebanyakan makan telur yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko penyakit jantung. Hal ini terjadi karena kuning telur mengandung kolesterol cukup tinggi, sekitar 185 miligram per butir. Jika seseorang mengonsumsi telur dalam jumlah berlebihan setiap hari, kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah dapat meningkat.

Nah, peningkatan LDL ini bisa menyebabkan aliran darah ke jantung menjadi tersumbat. Nah, kondisi inilah yang bisa memicu aterosklerosis, serangan jantung, atau stroke.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *