PravadaNews – Pedagang mengeluhkan penjualannya menurun di momentum HUT ke-81 RI. Penjual kopi, Aditya mengatakan, minuman yang dijajakannya minim pembeli.
“Banyak yang jual dibandingkan yang beli,” kata Aditya saat diwawancarai PravadaNews, Senin (17/8/2026).
Aditya mengaku pendapatannya terus berkurang setiap harinya.
Aditya memilikk harapan besar terhadap bangsa Indonesia ke depan meski dirinya saat ini belum merdeka.
Sebagai rakyat kecil, lanjut Aditya, dirinya harus bekerja di sebuah toko bangunan di samping harus berjualan.
Aditya mengeluhkan biaya pendidikan semakin tinggi dan program pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sosial (Bansos) yang tidak tepat sasaran.
“Saya pribadi merasa belum merdeka. Saya sebagai rakyat melihat pemerintah kurang perhatian di sektor pendidikan, PKH, dan bansos,” jelas Aditya.
Pada sektor pendidikan, kata Aditya, memang tidak dipungut biaya. Namun, ada bebeeapa kegiatan di sekolah yang harus mengeluarkan biaya.
“Masuk sekolah mah gratis. Tapi ada aja yang bayar,” kata Aditya.
Aditya juga mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang semakin mahal. Aditya pun mensiasati itu dengan bekerja sambil berdagang.
“Harus pinter-pinter mencari peluang,” ujar Aditya.
Aditya menambahkan, penghasilannya bekerja di toko bangunan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. “Penghasilan di bagi dua, harian sama bulanan. Bely mencukupi kan gaji harian di bawah UMR. Makanya harus pinter-pinter usaha,” pungkas Aditya.















