Penyaluran Kementerian Perdagangan peduli untuk bencana NTT. (Foto: Dok. Kementerian Perdagangan)  

Beranda / Nasional / Empat Pasar di NTT Terdampak Gempa

Empat Pasar di NTT Terdampak Gempa

PravadaNews – Empat pasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum sepenuhnya pulih pascagempa. Di sisi lain, kebutuhan sehari-hari warga tetap harus dipenuhi.

Sebelumnya, gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) lalu meninggalkan kerusakan pada sejumlah pusat perdagangan, termasuk Pasar Inpres Ruteng di Kabupaten Manggarai.

Di tengah pemulihan tersebut, pasokan bahan pokok tetap perlu bergerak karena kegiatan perdagangan di pasar terdampak belum seluruhnya kembali berjalan normal.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah memetakan kondisi empat pasar sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait penggunaannya setelah gempa.

“Setelah kita identifikasi memang ada empat pasar yang mengalami kerusakan. Tapi yang rusak itu ada satu, Pasar Inpres Ruteng di Manggarai,” ucap Budi dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (17/8/2026).

Adapun pasar Inpres Ruteng belum dapat digunakan sementara karena sejumlah tiangnya mengalami kerusakan, sehingga aktivitas perdagangan harus menunggu kondisi bangunan dinyatakan memungkinkan.

“Untuk pasar-pasar yang lain masih bisa dipakai, artinya kerusakannya ringan, jadi sementara masih bisa dipakai. Tapi memang aktivitasnya belum jalan,” tutur Mendag Busan.

Upaya menjaga kebutuhan warga turut dibarengi penyaluran bantuan senilai Rp250 juta yang dihimpun Kemendag dan diserahkan melalui penghubung NTT di Jakarta.

Selama perdagangan belum kembali normal, Kemendag akan memantau kebutuhan bahan pokok dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta distributor wilayah terdekat untuk menjaga ketersediaannya.

Sementara itu, Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio menilai, kecepatan penanganan pada masa awal bencana perlu dilanjutkan ketika pemerintah mulai memasuki tahap pemulihan masyarakat terdampak.

Menurut Hensa, panggilan akrabnya, respons pada hari-hari pertama menunjukkan pemerintah mampu menggerakkan koordinasi dengan cepat ketika masyarakat membutuhkan penanganan dalam kondisi darurat.

“Biasanya yang juga penting itu setelah hari-hari pertama. Jangan cepatnya hanya ketika semua mata sedang melihat, pemuliha masyarakat juga harus dikawal sampai selesai,” kata Hensa dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8).

Masyarakat, lanjut Hendri, pada akhirnya akan melihat kecepatan bantuan sampai dan efektivitas koordinasi di lapangan sebagai ukuran dari penanganan yang dilakukan pemerintah.

Karena itu, Hensa mengingatkan konsistensi penanganan tetap diperlukan setelah fase awal berlalu, terutama ketika masyarakat terdampak masih berusaha mengembalikan aktivitas sehari-harinya.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *