PravadaNews – Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya, tetapi juga menghambat perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak secara jangka panjang.
“Penanganan stunting harus menjadi perhatian utama orang tua sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun,” tulis Halodoc, dikutip Selasa (18/8/2026).
Apabila terdeteksi secara dini, dampak buruk dari gangguan pertumbuhan ini masih dapat diintervensi dan diminimalkan secara optimal.
Penyebab utama stunting mencakup kurangnya asupan nutrisi berkualitas, infeksi berulang akibat sanitasi yang buruk, serta kurangnya stimulasi psikososial.
Oleh karena itu, langkah intervensi harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan demi masa depan si Kecil.
Berikut langkah-langkah penanganan stunting pada anak
- Mengutamakan Asupan Protein Hewani
Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging sapi, dan susu mengandung asam amino esensial lengkap yang sangat dibutuhkan untuk memicu hormon pertumbuhan anak secara maksimal.
- Pemberian ASI Eksklusif dan MPASI Kaya Nutrisi
Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, dilanjutkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang padat gizi, kaya zat besi, serta seng (zinc) sesuai tahapan usia.
- Mencegah dan Mengobati Infeksi Berulang
Anak yang sering mengalami diare atau cacingan akan kehilangan nutrisi penting. Pastikan anak mendapatkan imunisasi rutin lengkap serta menjaga kebersihan makanan dan lingkungan.
- Meningkatkan Sanitasi dan Kebersihan Lingkungan
Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memasak, sebelum menyuapi anak, dan setelah dari kamar mandi untuk mencegah paparan kuman penyakit.
- Rutin Memantau Pertumbuhan di Posyandu atau Fasilitas Kesehatan
Lakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan setiap bulan di KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan sedini mungkin.















