PravadaNews – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksi penurunan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia pada 2027 menjadi sekitar 53 juta ton. Proyeksi tersebut mempertimbangkan dampak El Nino serta lambatnya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengatakan, produksi sawit pada 2025 seharusnya dapat melampaui 60 juta ton apabila peremajaan kebun berjalan optimal.
“Masalah utama yang membebani produksi kita sebenarnya adalah terkendalanya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Seharusnya produksi kita tahun lalu sudah bisa di atas 60 juta ton apabila PSR itu berhasil. Kendala utamanya ada pada perizinan, padahal dana dari BPDP sudah disediakan tetapi tidak pernah bisa dicapai karena realisasi PSR yang sangat lambat,” tegas Eddy dalam laman resminya, Senin (31/8/2026).
Selain PSR, ancaman iklim El Nino juga diperhitungkan karena berpotensi menimbulkan kekeringan yang dapat memengaruhi produktivitas sawit pada tahun berikutnya.
“Jika tidak terjadi El Nino, perkiraan produksi kita di tahun depan bisa naik menjadi 59,5 juta ton. Namun akibat dampak El Nino, kami memproyeksikan terjadi penurunan produksi sebesar 9,85% atau berkurang sekitar 5 juta ton, sehingga total produksi bisa turun menjadi 53 juta ton,” jelas Eddy.
Pada saat yang sama, kebutuhan CPO di dalam negeri meningkat setelah pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut kebutuhan CPO untuk mendukung kebijakan ini diproyeksi mencapai sekitar 18,7 juta ton pada 2026.
Di tengah proyeksi itu, produksi CPO pada Juni 2026 masih meningkat. Data GAPKI menunjukkan produksi CPO mencapai 4,823 juta ton, naik sekitar 15,8% dibandingkan Mei sebesar 4,165 juta ton.
Secara kumulatif, produksi CPO Januari–Juni 2026 mencapai 27,663 juta ton, naik sekitar 8,59% dari 25,475 juta ton pada periode sama 2025. Konsumsi domestik mencapai 12,944 juta ton, sedangkan stok akhir tercatat 2,844 juta ton, turun dari 3,042 juta ton pada Mei.
Jika produksi turun saat kebutuhan domestik meningkat, GAPKI memperkirakan ruang untuk ekspor akan menyempit. Eddy memproyeksikan volume ekspor dapat berkurang sekitar 5 juta ton, dari sekitar 32 juta ton menjadi 27 juta ton, yang juga berpotensi mengurangi penerimaan dana kelolaan BPDP.
Di sisi lain, BPDP masih mempercepat pelaksanaan PSR. Hingga Rabu (19/8), realisasi PSR tahun ini mencapai 133 proposal seluas 20.229 hektare, melibatkan 10.403 pekebun dengan penyaluran dana Rp606 miliar.
Sejak 2016, PSR telah menjangkau 187.782 pekebun dengan luas 428.745 hektare dan penyaluran dana Rp12,86 triliun.
Namun, BPDP mengungkapkan pelaksanaan PSR masih menghadapi kendala pada proses pengusulan hingga kelembagaan pekebun dan ketersediaan benih yang memenuhi persyaratan.















