PravadaNews – Pagi di lantai bursa mengawali pekan dengan tekanan. IHSG kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (28/9/2026), meneruskan pelemahan yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Indeks dibuka di level 6.209,74 atau turun 32,146 poin setara 0,52 persen, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,90 persen ke posisi 6.241,8.
Tekanan jual juga terlihat dari pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi sasaran aksi jual investor asing, dengan TLKM, BMRI, BBRI, ASII, dan BBNI tercatat sebagai saham yang paling banyak dilepas.
Di tengah sentimen tersebut, mayoritas saham masih bergerak terbatas pada awal perdagangan, tercermin dari 231 saham yang melemah berbanding 156 saham yang menguat dan 299 saham stagnan.
Aktivitas transaksi tercatat mencapai Rp154,40 miliar dengan volume 580,36 juta saham dan frekuensi 39.771 transaksi.
“Rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS,” kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun berada di level 5,17 persen .
Selain itu, tambah Lukman, harga minyak mentah dunia masih berfluktuatif. Sementara suku bunga the Fed diprakirakan akan naik lagi di bulan Oktober.
Menguatnya prakiraan kenaikan suku bunga the Fed dipicu data ekonomi AS. Yakni data penjualan barang tahan lama yang menguat.
Dari sisi geopolitik, AS lagi-lagi menolak proposal Iran negosiasi untuk mengakhiri perang.
Penolakan tersebut menyebabkan makin tingginya risiko harga minyak, karena Iran masih menutup Selat Hormuz.
“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS,” ucap Lukman.
Sementara itu, indeks dolar AS hari ini terpantau berada di posisi 101,15, menguat dibandingkan hari sebelumnya.















