PravadaNews – Kontroversi mewarnai kemenangan dramatis Argentina atas Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Meski menuai protes, keputusan wasit dinilai tetap menjadi otoritas tertinggi dalam pertandingan.
Pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo mengatakan setiap keputusan wasit selalu mengandung unsur subjektivitas. Menurutnya, keberadaan Video Assistant Referee (VAR) tidak menghilangkan kewenangan wasit di lapangan.
Argentina memastikan kemenangan 3-2 setelah bangkit dari ketertinggalan dua gol. Albiceleste mencetak gol melalui Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez.
Mesir sempat unggul lewat gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Zico. Namun, gol kedua Zico pada menit ke-58 akhirnya dianulir usai wasit Francois Letexier meninjau tayangan VAR.
Keputusan itu memicu protes dari kubu Mesir. Mereka juga kembali melancarkan protes saat gol kemenangan Enzo Fernandez pada masa injury time karena menganggap terjadi pelanggaran dalam proses serangan.
Kesit menilai perbedaan pandangan terhadap keputusan wasit merupakan hal yang lazim dalam sepak bola. Namun, hasil pertandingan tetap ditentukan oleh keputusan yang diambil wasit.
“Wasit tetap menjadi orang nomor satu yang memutuskan apakah terjadi gol atau tidak, apakah ada pelanggaran atau tidak, meskipun sudah ada VAR,” kata Kesit kepada PravadaNews, Rabu (8/7).
Menurutnya, penonton berhak memiliki penilaian berbeda terhadap keputusan wasit. Meski demikian, keputusan tersebut tetap berlaku selama pertandingan berlangsung.
Kesit juga menanggapi anggapan bahwa Argentina atau Lionel Messi mendapat perlakuan istimewa. Ia menilai anggapan tersebut merupakan pendapat yang sah di kalangan suporter.
Namun, ia melihat keberhasilan Argentina lebih dipengaruhi kualitas permainan dibanding faktor lain. Status sebagai juara bertahan disebut menjadi salah satu kekuatan utama tim asuhan Lionel Scaloni.
Kesit menilai mentalitas Argentina menjadi pembeda dalam laga melawan Mesir. Meski tertinggal dua gol, mereka mampu bangkit dan membalikkan keadaan hingga meraih kemenangan.
“Sebagai juara bertahan mentalitas mereka memang sangat luar biasa. Sudah tertinggal dua gol juga ternyata mereka mampu bangkit dan menunjukkan kualitasnya sebagai tim juara,” ujar Kesit.
Di lain pihak, pelatih timnas Mesir, Hossam Hassan menyebut wasit pertandingan lawan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 tidak adil. Ia juga menuduh turnamen sudah diatur untuk memberi jalan kepada juara bertahan untuk kembali berjaya.
“Wasit tidak adil, Tuhan sudah cukup bagi saya dan dia adalah sebaik-baiknya pengatur segala urusan. Tapi (wasit) menyia-nyiakan perjuangan satu bangsa. Turnamen ini sudah diarahkan untuk Argentina,” kata Hassan dikutip dari Sky Sports.















