PravadaNews – Upaya menjaga beras tetap terjangkau masih menghadapi persoalan di sepanjang rantai pasok, mulai dari penggilingan hingga distribusi ke pasar.
Pada salah satu kios beras di Jalan Baru, Ciracas, Jakarta Timur, terlihat pasokan beras medium dan premium masih berjalan lancar pada awal Oktober 2026. Saat di lokasi, pedagang juga menuturkan harga beberapa jenis beras turun tipis dibanding bulan sebelumnya.
Sejumlah beras di kios tersebut dijual mulai Rp12.000 hingga Rp16.000 per kilogram. Sementara itu, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual Rp65.000 per lima kilogram.
Namun, perkembangan berbeda masih terlihat secara nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras di tingkat penggilingan kembali naik pada September 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan terjadi pada beras premium maupun medium.
“Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan September 2026 naik 0,81% secara month-to-month dan naik 6,04% secara year-on-year,” ucap Ateng dalam Konferensi Pers BPS per Oktober, Kamis (1/10).
Pada Agustus 2026, rata-rata harga beras premium di tingkat penggilingan tercatat Rp15.062 per kilogram. Sebulan kemudian, harganya naik Rp123 menjadi Rp15.185 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada beras medium. Harganya naik Rp121 dari Rp13.897 per kilogram pada Agustus menjadi Rp14.018 per kilogram pada September.
Beras juga memberikan andil 0,03% terhadap inflasi September yang mencapai 0,30% secara bulanan. Pada saat yang sama, potensi produksi beras September–November diperkirakan turun 11,95% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, Pengamat Pertanian dan Pangan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori melihat pekerjaan rumah perberasan juga terdapat pada tahap setelah panen.
“Yang paling penting saya kira, sebetulnya hampir semua rantai itu ada pekerjaan rumahnya, dari hulu ke hilir, kalau di hulu, di petani, ada pekerjaan rumahnya. Di pengangkutan, di pemanenan, itu hasil yang hilang (losses) pun masih tinggi,” jelas Khudori saat dihubungi, Minggu (4/10).
Salah satu persoalan yang disorot Khudori berada di tingkat penggilingan. Menurutnya, sekitar 95% dari sekitar 170 ribu penggilingan merupakan penggilingan kecil dan banyak yang masih menggunakan teknologi lama.
Kondisi ini membuat persoalan beras berlanjut hingga proses distribusi dan penjualan ke konsumen.
“Pada penggilingan, PR-nya juga banyak. Pada distribusi di pasar, itu juga ada pekerjaan rumah,” tutur Pengamat tersebut.
Selain rantai pasok, Khudori menyoroti belum adanya data resmi mengenai porsi kebutuhan beras medium dan premium. Sejumlah perhitungan peneliti memperkirakan beras premium memiliki porsi sekitar 30–35% dan sisanya beras medium.
Pemetaan kebutuhan dinilai penting karena pilihan beras masyarakat berbeda sesuai kualitas dan kemampuan membeli. Kelompok berpendapatan rendah juga lebih sensitif terhadap kenaikan harga sehingga dapat mengurangi pembelian atau beralih ke beras berkualitas lebih rendah.
Karena itu, Khudori mendorong pembenahan penggilingan melalui kerja sama antara penggilingan kecil dengan penggilingan menengah dan besar. Skema itu dinilai dapat membantu penggilingan kecil memperbarui mesin sekaligus mengurangi persaingan mendapatkan gabah.















