PravadaNews – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih diwarnai fluktuasi, mencerminkan dinamika pasar keuangan yang terus bergerak.
Setelah sempat melemah pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, rupiah kembali menunjukkan penguatan saat membuka perdagangan hari ini, memberikan sinyal positif di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,13 persen atau 24 poin ke level Rp17.891 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi setelah rupiah pada perdagangan Kamis (8/10/2026) ditutup melemah 0,16 persen ke posisi Rp17.915 per dolar AS.
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong sebelumnya telah memperkirakan rupiah berpeluang menguat pada perdagangan hari ini.
“Rupiah diprakirakan dibuka menguat terhadap dolar AS seiring menurunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS,” ucap Lukman, Jumat (9/10).
Selain itu, indeks dolar AS melemah yang memberikan sentimen positif ke rupiah.
“Sentimen positif ini didorong oleh meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah,” ujar Lukman.
Harapan itu mencuat, menyusul pernyataan Trump mengenai adanya perkembangan positif dalam perundingan dengan Iran.
Pernyataan yang sering dilontarkan Trump, tapi Trump sendiri yang kadang mementahkan kembali pernyataannya.
Dari domestik, kata Lukman, investor menantikan rilis data penjualan ritel Agustus.
Lukman memprakirakan rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS.
Sementara itu indeks dolar AS hari ini berada di kisaran level 102,13 hingga 102,17. Indeks dolar turun tipis sekitar 0,08 – 0,12 persen dibandingkan Kamis kemarin.
Sedangkan imbal hasil obligasi AS berada di level 5,22 persen untuk tenor 10 tahun, turun 4 basis poin.
Sejumlah pejabat the Fed mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menekan inflasi, tetapi tidak perlu dilakukan segera.















